Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tenaga Kerja di Sektor Pariwisata Bali Turun, ini Penyebabnya

Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah tenaga kerja di sektor akomodasi makan minum di Bali per 2019 adalah sebanyak 328.000 pekerja.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 04 Maret 2021  |  12:59 WIB
Pura Tanah Lot - Antara
Pura Tanah Lot - Antara

Bisnis.com, DENPASAR - Distribusi tenaga kerja di Bali mengalami perubahan yang terlihat dari penurunan pekerja sektor akomodasi makan minum dan peningkatan jumlah pekerja di sektor pertanian.

Berdasarkan data Bank Indonesia, jumlah tenaga kerja di sektor akomodasi makan minum di Bali per 2019 adalah sebanyak 328.000 pekerja. Pada 2020, jumlahnya menurun 28,05 persen dibandingkan tahun sebelumnya (year on year/YoY) menjadi 236.000 pekerja. Kondisi sebaliknya terjadi di sektor pertanian, dengan peningkatan 17,9 persen YoY pada 2020 menjadi 546.000 pekerja.

Peningkatan jumlah tenaga kerja juga terjadi di sektor perdagangan, yang naik 3,19 persen YoY pada 2020 menjadi 496.000 pekerja. Kemudian, jumlah tenaga kerja di industri pengolahan naik 3,52 persen YoY pada 2020 menjadi 382.000 pekerja.

Sektor jasa pendidikan mengalami pertumbuhan tipis sebesar 4 persen YoY pada 2020 menjadi 104 pekerja.

Sementara itu, pada 2020, penurunan jumlah tenaga kerja terjadi di sektor konstruksi 1,23 persen YoY, jasa lainnya 2,96 persen YoY, administrasi pemerintah 8,8 persen YoY, jasa keuangan 12,67 persen YoY, dan lainnya 22,07 persen YoY.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali M. Setyawan Santoso mengatakan di tengah pandemi banyak orang yang berpindah sektor untuk bekerja di sektor pertanian. Berbeda dengan akomodasi makan dan minum yang jumlah tenaga kerjanya mengalami penurunan.

"Ini wajar [penurunan jumlah tenaga kerja di sektor akomodasi makan minum], karena banyak hotel-hotel tutup atau berhenti sementara sehingga yang dirumahkan banyak karyawan tidak ada tamu datang," katanya, Kamis (4/3/2021).

Perubahan jumlah tenaga kerja di Bali, berpengaruh pada distribusi tenaga kerja per sektor, yang semula 18,7 persen pada 2019 menjadi 22,5 persen pada 2020. Akomodasi makan dan minum yang semula memiliki porsi 18,3 persen pada 2019 menjadi 9,8 persen pada 2020.

"Sektor jasa sebelumnya terjadi kelebihan pekerja, dengan adanya Covid-19, banyak perpindahan orang, karena sektor sepi dia [pekerja] pindah ke sektor lain," sebutnya.

Sementara itu, perubahan struktur distribusi tenaga kerja pada tahun depan masih menjadi pertanyaan besar. Ada kemungkinan, pada 2022 nanti, struktur distribusi tenaga kerja akan berbalik seperti kondisi 2019. Namun, bisa saja, akan ada penyesuaian masyarakat dalam menentukan sektor kerja berkaca dari pandemi Covid-19.

"Ini perlu diskusi lebih panjang karna terjadi perubahan strukur bisa juga terjadi perubahan fundamental, dengan adanya Covid-19 kita menyesuaikan, kemudian bisa saja kondisi pariwisata pada 2020 tidak seperti 2019," sebutnya.

Sekedar catatan, tingkat pengangguran di Bali per Agustus 2020 adalah sebesar 5,6 persen naik dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang sebesar 1,5 persen. Pada 2019, tingkat pengangguran di Bali menjadi nomor satu terendah di Indonesia. Namun, dengan realisasi 5,6 persen tersebut, menjadikan pada 2020 Bali berada di peringkat 18 pengangguran terendah di Indonesia.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top