Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bali Masih Defisit Air Baku

Pulau Dewata memiliki potensi air baku yang cukup besar. Hanya saja, ketersediaan infrastrukturnya masih rendah.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 27 Januari 2021  |  15:20 WIB
Foto udara kawasan bendungan. Ilustrasi. - Antara/Ahmad Subaidi
Foto udara kawasan bendungan. Ilustrasi. - Antara/Ahmad Subaidi

Bisnis.com, DENPASAR — Bali masih mengalami defisit air baku di tengah potensi yang cukup berlimpah.

Berdasarkan data Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida, per 2018, potensi air baku di Pulau Dewata mencapai 216,87 meter kubik per detik. Namun, ketersediaan air baku yang bisa diakses masyarakat baru mencapai 101,23 meter kubik per detik per 2018.

Sementara itu, kebutuhan air baku masyarakat per 2018 mencapai 119,96 meter kubik per detik. Artinya, Bali memiliki defisit air baku hingga mencapai 18 meter kubik per detik. Perlu diketahui, data potensi, kebutuhan, dan ketersediaan air baku baru akan diperbarui setiap lima tahun sekali.

Kepala Seksi Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai Bali Penida Neke Krisna Yana mengatakan Pulau Dewata memiliki potensi air baku yang cukup besar. Hanya saja, ketersediaan infrastrukturnya masih rendah sehingga belum memenuhi kebutuhan air baku masyarakat. Kondisi ini pun menjadikan Bali masih mengalami defisit air baku.

Defisit air baku tertinggi berada di wilayah Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita). Kebutuhan air baku Sarbagita mencapai 10,65 meter kubik per detik tetapi ketersediaannya baru 4,27 meter kubik per detik.

"Kalau belum dilakukan pembangunan infrastruktur berupa bendungan, waduk, maupun embung belum bisa dikatakan air tersediakan, makanya kita upayakan ketersediaan infrastruktur tadi," katanya kepada Bisnis, Rabu (27/1/2021).

Saat ini, Bali baru memiliki lima bendungan eksisting yakni Bendungan Palasari di Jembrana yang berfungsi hanya untuk irigasi, Bendungan Gerogak di Buleleng untuk irigasi, Bendungan Benel di Jembrana untuk air baku 64 liter per detik dan irigasi, Bendungan Telaga Tunjung di Tabanan untuk air baku 20 liter per detik dan irigasi, dan Bendungan Titab Ularan di Buleleng untuk air baku 350 liter per detik, irigasi, dan PLTMh 1,5 MW.

Bali juga memiliki satu waduk muara di Nusa Dua untuk memenuhi kebutuhan air baku sebesar 500 liter per detik.

Sebagai upaya pemenuhan kebutuhan air baku, BWS Bali Penida juga telah membangun tiga long storage di Bali yakni long storage Penet, Petanu, dan Waribang dengan manfaat penampungan masing-masing 300 liter per detik. Selain itu, ada pula embung yang berupa tampungan air dengan kapasitas lebih kecil yang tersebar di 15 titik wilayah Bali.

Bali juga sedang membangun dua bendungan besar yakni Bendungan Tamblang dan Sidan yang masing-masing ditarget rampung pada 2022 dan 2023. Bendungan Tamblang akan difungsikan untuk irigasi ke lahan pertanjan seluas 588 hektare, air baku dengan kecepatan 510 liter per detik, dan pembangkit listrik mikrohidro (PLTMH) 0,53 MW. 

Nantinya Bendungan Sidan akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku wilayah Sarbagita dengan kecepatan 1.750 liter per detik dan PLTMH 0,65 MW.  "Pembangunan Bendungan Sidan dan Tamblang merupakan upaya pemenuhan air baku di Bali yang saat ini defisit," sebutnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali air bersih
Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top