Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Bendungan Sidan dan Tamblang di Bali Rampung 1-2 Tahun Lagi

Bendungan Sidan yang melingkupi tiga wilayah yakni Badung, Gianyar, dan sedikit wilayah Bali. Bendungan Sidan yang telah dibangun sejak 2019 awal ini ditarget rampung pada 2023 dengan biaya keseluruhan Rp786 miliar.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 27 Januari 2021  |  16:48 WIB
Ilustrasi/ANTARA FOTO - Ahmad Subaidi\r\n
Ilustrasi/ANTARA FOTO - Ahmad Subaidi\\r\\n

Bisnis.com, DENPASAR -- Dua bendungan akan beroperasi di Bali dalam kurun waktu dua-tiga tahun ke depan untuk menambah ketersediaan air baku hingga pembangkit listrik. 

Pertama, Bendungan Tamblang di Buleleng yang ditarget rampung pembangunannya pada 2022 dengan biaya pembangunan Rp769 miliar. Bendungan yang memiliki luas tampungan 7,6 juta meter kubik ini akan difungsikan untuk irigasi ke lahan pertanjan seluas 588 hektar are, air baku dengan kecepatan 510 liter per detik, dan pembangkit listrik mikrohidro (PLTMH) 0,53 MW. 

Kedua, Bendungan Sidan yang melingkupi tiga wilayah yakni Badung, Gianyar, dan sedikit wilayah Bali. Bendungan Sidan yang telah dibangun sejak 2019 awal ini ditarget rampung pada 2023 dengan biaya keseluruhan Rp786 miliar. 

Nantinya Bendungan Sidan akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku wilayah Sarbagita dengan kecepatan 1.750 liter per detik dan PLTMH 0,65 MW. 

Kepala Seksi Keterpaduan Pembangunan Infrastruktur Sumber Daya Air Balai Wilayah Sungai Bali Penida Neke Krisna Yana mengatakan pembangunan Bendungan Sidan dan Tamblang merupakan langkah untuk mencukupi kebutuhan air baku di Bali. Apalagi, hingga saat ini Bali masih defisit dalam pemenuhan kebutuhan air baku. Padahal, potensi pemanfaatan air baku yang ada cukup besar.

Berdasarkan data Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali Penida, per 2018, potensi air baku di Pulau Dewata mencapai 216,87 meter kubik per detik. Namun, ketersediaan air baku yang bisa diakses masyarakat baru mencapai 101,23 meter kubik per detik per 2018.

Sementara itu, kebutuhan air baku masyarakat per 2018 mencapai 119,96 meter kubik per detik. Artinya, Bali memiliki defisit air baku hingga mencapai 18 meter kubik per detik.

Perlu diketahui, data potensi, kebutuhan, dan ketersediaan air baku baru akan diperbarui setiap lima tahun sekali.

"Tapi sebetulnya, kalau potensi yang ada sudah pasti mencukupi kebutuhan, tetapi potensi air kan secara keseluruhan lokasi ada di mana-mana, sedangkan ketersediaan menyesuaikan dengan terbangunnya infrastruktur," katanya kepada Bisnis, Rabu (27/1/2021).

Krisna menegaskan, deifist air baku, bukan berarti kondisi Bali begitu kering tanpa ada ketersediaan air. Desifit air baku yang ada merupakan gambaran perbandingan pertumbuhan jumlah penduduk dengan kebutuhan air.

Setidaknya, daerah di Bali yang tergolong kering atau potensi air baku rendah berada di Karangasem dan Buleleng. Karangasem memiliki kebutuhan air baku 1,13 meter kubik per detik tetapi baru terpasang 0,92 meter per detik. Buleleng memiliki kebutuhan air baku 2,03 meter kubik per detik tetapi ketersediaannya baru 0,89 meter kubik per detik.

"Kalau dua daerah itu memang sulit sumber air," sebutnya.

Defisit air baku tertinggi berada di wilayah Denpasar, Badung, Gianyar, dan Tabanan (Sarbagita). Kebutuhan air baku Sarbagita mencapai 10,65 meter kubik per detik tetapi ketersediaannya baru 4,27 meter kubik per detik.

Bali juga masih memiliki sejumlah daerah yang berpotensi untuk dibangun Bendungan yakni Bendungan Sorga di Buleleng dan waduk Unda.

Saat ini, Bali baru memiliki lima bendungan eksisting yakni Bendungan Palasari di Jembrana yang berfungsi hanya untuk irigasi, Bendungan Gerogak di Buleleng untuk irigasi, Bendungan Benel di Jembrana untuk air baku 64 liter per detik dan irigasi, Bendungan Telaga Tunjung di Tabanan untuk air baku 20 liter per detik dan irigasi, dan Bendungan Titab Ularan di Buleleng untuk air baku 350 liter per detik, irigasi, dan PLTMh 1,5 MW.

"Bendugan Titab masih akan menjadi bendungan terbesar di Bali degan tampungan air mencapai 12,8 juta meter kubik," sebutnya.

Sebagaai upaya pemenuhan kebutuhan air baku, BWS Bali Penida juga telah membangun tiga long storgae di Bali yakni Long Storage Penet, Petanu, dan Waribang dengan manfaat penampungan masing-masing 300 liter per detik.

Selain itu, ada pula embung yang berupa tampungan air dengan kapasitas lebih kecil yang tersebar di 15 titik wilayah Bali.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali bendungan
Editor : Andhika Anggoro Wening

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top