Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Tak Bisa Dieskpor ke Eropa, Kakao Fermentasi di Bali Diolah Jadi Nibs

Petani Kakao di Provinsi Bali diperkirakan tak bisa mengekspor kakao fermentasi ke Eropa, sehingga mengolah kakao fermentasi menjadi nibs.
Biji kakao
Biji kakao

Bisnis.com, DENPASAR - Petani Kakao di Provinsi Bali diperkirakan tak bisa mengekspor kakao fermentasi ke Eropa, sehingga mengolah kakao fermentasi menjadi nibs.

Kakao fermentasi Bali dikelola oleh Yayasan Kalimajari dan Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) sejak tahun 2011, melalui program Kakao Lestari, yang merupakan program pemberdayaan petani melalui pelatihan dan pendampingan

Direktur Yayasan Kalimajari Agung Widi mengatakan selain panen raya bulan Juni diwarnai ketidakpastian pasar ekspor ke Eropa (Prancis, Belgia, Belanda) dan Jepang, karena pandemi Corona.

Widi menambahkan permintaan pasar lokal juga merosot tajam. Pada kondisi normal kebutuhan kakao fermentasi asal Jembrana ini sebanyak 3 ton per bulan untuk wilayah lokal, namun saat ini pihaknya hanya dapat memasarkan 5-10 persen biji kakao atau sekitar 500 kg pada Februari 2020 dan pada April tidak ada penjualan atau nol.

Di tengah ketidakpastian pasar ini, pihak Kalimajari dan Kopersi KSS tidak tinggal diam dan sedang membuat skema baru untuk pemasaran hasil panen dari 609 petani kakao di Jembrana.

Dia menjelaskan, skema ini bertujuan agar koperasi sesuai kemampuannya tetap bisa membeli hasil panen petani. Terutama pada Juni yang sudah memasuki proses panen raya. Yakni setiap 3 hari sekali akan tetap menghubungi partner buyer untuk meminta kembali komitmen mereka dalam melakukan kerjasama ini dan petani juga merasa bahwa mereka masih memiliki partner buyer ketika musim panen tiba.

Solusi lainya adalah dengan mengolah biji kakao menjadi nibs, atau produk turunan biji kakao, agar dapat disimpan dalam kurun waktu yang lebih lama.

"Dengan mengolah biji kakao menjadi nibs kami dapat tetap menjaga kualitas," tambahnya.

Widi menegaskan bahwa saat ini masih ada harapan untuk pemasaran kakao menjalang panen raya. Sebab dari pasar lokal sudah ada yang memesan nibs yang akan di ekspor ke kawasan Asia.

"Kebetulan sudah ada order nibs yang masuk, dan itu yang kami prioritaskan terlebih dahulu," ungkapnya.

Meski demikian, partner buyer lainnya tetap ada yang menginginkan biji kakao fermentasi yang masih utuh.

"Jadi tidak semua akan kami oleh menjadi nibs, karena masih ada permintaan untuk biji utuh di pasar lokal," kata Widi.

Di balik krisis ini, sambungnya, masih ada harapan dan semangat yang harus tetap dijaga. Kalimajari dan Koperasi KSS terus berupaya melakukan yang terbaik untuk semua pihak.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Luh Putu Sugiari
Editor : Sutarno
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper