Sedikitnya 179 Babi Mati di Badung, Balai Veteriner Kirim Sampel ke Medan

Sebanyak 179 ternak babi di wilayah Badung dilaporkan mati. Kematian itu dihitung sejak periode Desember 2019 hingga pertengahan Januari 2020 ini.
Busrah Ardans
Busrah Ardans - Bisnis.com 21 Januari 2020  |  20:45 WIB
Sedikitnya 179 Babi Mati di Badung, Balai Veteriner Kirim Sampel ke Medan
Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, I Wayan Masa saat ditemui di ruang kerjanya, Senin (20/1 - 2020).

Bisnis.com, DENPASAR--Sebanyak 179 ternak babi di wilayah Badung dilaporkan mati. Kematian itu dihitung sejak periode Desember 2019 hingga pertengahan Januari 2020 ini.

Banyaknya kematian babi itu sudah ditindaklanjuti oleh Balai Besar Veteriner Denpasar untuk mengambil sampel dari ternak kemudian dikirim ke Balai Besar Veteriner Medan untuk memastikan babi-babi tersebut tidak terjangkit penyakit eksotik atau Flu Babi (African Swine Fever).

Kepala Dinas Pertanian dan Holtikultura Wisnuwardhana mengatakan sampel darah ternak sudah dikirim ke Balai Besar Veteriner Medan melalui Balai Besar Veteriner Denpasar dan akan diteruskan ke pusat.

Sampai saat ini pihaknya masih menunggu hasil laboratorium itu.

"Jumlah yang mati sedang terus dicek. Menurut laporan di Badung 179 ekor dari jumlah lebih dari 600.000 ekor ternak di Bali. Ada pengiriman sampel ke Balai Besar Veteriner Medan untuk memastikan tidak terjangkit penyakit eksotik," kata dia, (20/1/2020).

Dia mengimbau agar peternak tidak memberi pakan dari limbah hotel/restoran dan lainnya, kecuali dimasak dahulu dan menjaga kebersihan dan sanitasi kandang.

Kepala Balai Besar Veteriner (BBVet) Denpasar, I Wayan Masa Tenaya saat diwawancarai, mengaku sudah turun ke lapangan untuk melakukan pengambilan sampel terhadap beberapa babi yang mati di Kabupaten Badung.

Sampel babi yang mengalami suspect selanjutnya sudah dikirim ke Medan karena terkait pengujian sampel di Indonesia, khususnya penyakit Babi, difokuskan di Balai Veteriner Medan sebagai lab rujukan penyakit babi. 

“Jadi sampel yang kita ambil sudah dikirimkan ke Medan. Khusus pengujian penyakit eksotik, pengujian untuk babi bertempat di Medan, Sumatera Utara,” kata Masa saat ditemui di Ruang Kerjanya, (20/1/2020).

Pihaknya mengaku sudah mengambil sampel sesuai aturan dan sudah melaporkan kejadian ini ke Jakarta.

Dia menyebut pemerintah pusat yang mengambil kebijakan dengan berbagai pertimbangan meski ditembuskan ke BBVet Denpasar.

Dirinya juga tidak tahu menahu kapan selesai karena dalam analisis Jakarta.

Dia optimis matinya babi-babi itu bukan karena flu babi.

"Kemungkinan matinya babi di Badung ini akibat pengaruh cuaca saja, karena saat ini, di Bali khususnya dan Indonesia pada umumnya, kondisi cuaca sedang buruk. Saat ini Indonesia sedang memasuki musim Pancaroba yakni peralihan dari musim kemarau yang panjang ke musim hujan," kata dia.

Sebelumnya, dia bilang, sudah ada penyakit pada babi di Bali seperti Septicemia Epizootica (SE), Hog Cholera,  dan streptococcus.

Sedangkan penyakit lainnya yang belum dilaporkan ada, ialah penyakit eksotik termasuk African Swine Fever (ASF) yang sedang terjadi di beberapa negara.

Penyakit ASF yang terjadi di Cina dan Sumatera Utara diakuinya sudah mempengaruhi pikiran para peternak di Bali sehingga harus melapor ke BBVet.

Dia menambahkan untuk pencegahannya bisa dilakukan dengan bio security dan bio safety dan tidak memberi makan sisa makanan hotel/restoran. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, babi

Editor : Rustam Agus
KOMENTAR


Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top