Pengembangan PLTS di Bali Hasilkan 148 Megawatt Peak

Kajian tentang pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan penerapan sistem solar panel yang dipasang di atap rumah.
Sultan Anshori
Sultan Anshori - Bisnis.com 09 Oktober 2019  |  16:48 WIB
Pengembangan PLTS di Bali Hasilkan 148 Megawatt Peak
Ilustrasi. - JIBI/Rachman

Bisnis.com, DENPASAR — Tim Community Based Renewable Energy (CORE) Universitas Udayana telah merampungkan kajian tentang pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan penerapan sistem solar panel yang dipasang di atap rumah.

Ketua CORE Unud, Ida Ayu Dwi Giriantari mengatakan, kajian pengembangan PLTS  ini dilakukan di empat wilayah di Bali selatan tepatnya di Denpasar, Badung, Gianyar, Tabanan dengan memanfaatkan bagunan pariwisata, serta bangunan pemerintah dan gedung sekolah. Menurutnya, alasan sample kajian pengembangan PLTS dilakukan di daerah tersebut karena banyaknya potensi gedung yang bisa dipasang panel PLTS.

"Dari sampel tersebut capaian potensi listrik yang dihasilkan dari PLTS atap mencapai 148 megawatt peak (MWp). Jadi ini merupakan potensi yang sangat besar jika benar-benar di garap," ujarnya saat ditemui di sela diskusi Peta Jalan PLTS Atap: Menuju Bali Mandiri Energi di Denpasar, Bali, Rabu (9/10/2019).

Menurutnya, pengembangan PLTS ini merupakan opsi untuk menjawab tantangan
provinsi Bali sebagai daerah dalam mengembangkan energi baru terbarukan.

Sesuai dengan rencana rencana umum energi nasional (RUEN) Bali menjadi satu diantara 34 provinsi di Indonesia yang menargetkan capaian kapasitas PLTS sebesar 108 megawatt di tahun 2025 mendatang. Sementara target target kapasitas PLTS nasional sebesar 6,5 GW dan akan meningkat menjadi 45 GW pada tahun 2050 mendatang.

Dirinya meyakini PLTS ini diterapkan bisa meningkatkan branding Bali sebagai destinasi wisata yang ramah lingkungan. Apalagi hal ini sesuai dengan visi misi pemprov Bali untuk membangun sistem Energi Bersih yang mandiri, berkeadilan dan berkelanjutan di daerah demi menjaga kesucian dan keharmonisan alam Bali sesuai dengan nilai-nilai Sad Kerthi dalam mewujudkan pulau Bali yang bersih, hijau dan indah.

"Pemanfaatan energi terbarukan di Bali bisa untuk membangun brand image positif bagi industri pariwisata. Keberhasilan praktik-praktik baik pemanfaatan energi terbarukan di Bali akan menjadi perhatian dunia atas keseriusan pemerintah RI dalam menyelamatkan lingkungan," jelasnya.

Dia menegaskan, dalam menerapkan pengembangan PLTS ini terdapat beberapa kendala yaitu. Pertama, minimnya sosialisasi yang dilakukan kepada masyarakat tentang PLTS sehingga mereka belum sadar jika PLTSA tersebut memiliki potensi begitu besar yang bisa dimanfaatkan.

Kedua belum adanya kebijakan khusus dari pemerintah untuk mendorong masyarakat dalam penggunaan PLTSA ini kedepannya. Dirinya berharap pemerintah segera mengeluarkan aturan untuk memasifkan rencana pemanfaatan energi terbarukan ini.

"Ketiga belum ketemunya kesepakatan bersama antara masyarakat pengguna PLTS dengan PLN sebagai regulator resmi suplier listrik untuk masyarakat. Saya berharap ada win-win solution untuk memanfaatkan PLTS ini," jelasnya.

Kadisnaker dan ESDM Provinsi Bali Ida Bagus Ngurah Arda mengapresiasi kajian yang sudah dilakukan ini. Nantinya hasil kajian ini bisa menjadi dasar penyusunan rancangan kebijakan Pergub Bali energi bersih yang saat ini sudah tahap pengajuan ke pusat.

Dia menyebut dalam Pergub itu diatur bagaimana penggunaan energi baru terbarukan juga dengan potensi-potensi energi yang ada di Bali.

"Khususnya matahari, dan air. Itu yang dominan untuk sementara kita dorong penggunaan energi baru bersih terbarukan, target nasional itu ada 23% di 2025 dan di Provinsi Bali kita targetkan sampai 2023 minimal 10% jadi energi bersumber dari energi baru terbarukan," tandasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Terpopuler

Top