Bali Dinilai Perlu Atur Peredaran Tembakau Alternatif

Pemerintah Bali didorong membuat regulasi yang mengatur peredaran tembakau alternatif.
Sultan Anshori
Sultan Anshori - Bisnis.com 01 Oktober 2019  |  15:34 WIB
Bali Dinilai Perlu Atur Peredaran Tembakau Alternatif
Pemerhati Kebijakan Publik dan Pakar Humaniora Adi Sastra Wijaya (kiri) dalam sebuah diskusi di Denpasar, Selasa (1/10/2019). - Bisnis/Sultan Anshori

Bisnis.com, DENPASAR — Pemerintah Bali didorong membuat regulasi yang mengatur peredaran tembakau alternatif untuk mengimbangi perkembangan teknologi sekaligus mengurangi risiko peredaran tembakau.

Pemerhati Kebijakan Publik dan Pakar Humaniora Adi Sastra Wijaya mengatakan tembakau alternatif dapat menjadi salah satu cara mengurangi jumlah perokok aktif dan pasif. Ditambah lagi bahwa di sejumlah daerah di pulau ini terdapat sentra pengembangan perkebunan tembakau.

“Bali itu sentra pariwisata, sehingga apapun yang besar akan lebih cepat mendunia dan kalau ada seperti ini [aturan tembakau alternatif] akan bagus,” jelasnya dalam sebuah diskusi di Denpasar, Selasa (1/10/2019).

Menurutnya, dengan mengatur terlebih dulu, maka pemerintah daerah dapat secara langsung mengantisipasi inovasi yang terjadi. Dia menilai di Bali terdapat sebuah kerancuan dalam mengelola inovasi, contohnya dalam hal teknologi smokeless. Bali seharusnya bisa meniru Korea Selatan yang mengadopsi perkembangan teknologi tembakau alternatif sehingga lebih adaptif.

Hanya dengan melarang seseorang merokok saja dinilai tidak akan efektif. Hal itu dibuktikan dengan masih banyaknya jumlah perokok meskipun banyak tempat ditetapkan sebagai kawasan tanpa rokok (KTR).

Pemprov Bali idealnya mengajak akademisi dan produsen tembakau alternatif untuk melihat secara positif peredaran tembakau alternatif sehingga manfaat yang diperoleh seperti berkurangnya perokok pasif hingga pendapatan daerah meningkat.

“Saya mendukung sikap terbuka yang merespon positif hadirnya produk tembakau alternatif di Bali. Pemerintah Bali pasti mempunyai penilaian bahwa produk hasil inovasi dan pengembangan teknologi dari industri tembakau ini dapat membantu menyelesaikan permasalahan terkait kesehatan publik dan lingkungan,” kata dia.

Bali, saat ini, sedang berjuang menyelesaikan permasalahan kualitas udara di Bali yang disebabkan oleh polusi udara dari kendaraan bermotor dan asap rokok. Adapun pada isu kesehatan publik, Pemerintah Bali berupaya menurunkan permasalahan angka perokok.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Pemprov Bali, angka perokok remaja dari 2016 yang berjumlah 11,2%, naik pada 2017 menjadi 14,1%. Sementara itu, menurut data Riset Kesehatan Dasar (Riskesda) Provinsi Bali, perokok dewasa mencapai 18%.

Ditemui di lokasi sama, dokter spesialis penyakit dalam Kadek Dian Lestari menegaskan pihaknya siap mendukung hadirnya kajian ilmiah dan mensosialisasikan manfaat dari produk tembakau alternatif.

“Bali dapat menjadi pionir sebagai provinsi yang melakukan kajian ilmiah mendalam tentang produk tembakau alternatif,” jelasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, tembakau

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Terpopuler

Top