Lapan Deteksi 103 Titik Panas di NTT

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mendeteksi, saat ini terdapat 103 titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Newswire
Newswire - Bisnis.com 10 September 2019  |  16:03 WIB
Lapan Deteksi 103 Titik Panas di NTT
Ilustrasi

Bisnis.com, KUPANG – Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan) mendeteksi, saat ini terdapat 103 titik panas (hotspot) di wilayah Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).

"Berdasarkan data titik panas dari citra satelit MODIS Terra dan Aqua, yang bersumber dari LAPAN, ada 103 titik panas di 16 kabupaten di NTT," kata Kepala Stasiun Meteorologi El Tari, Agung Sudiono Abadi kepada Antara di Kupang, Selasa (10/9/2019).

Dia mengemukakan hal itu, berkaitan dengan perkembangan hasil pantauan titik panas di wilayah provinsi berbasis kepulauan itu.

Menurut dia, 16 kabupaten yang terpantau titik panas itu adalah Kabupaten Belu, Alor, Ende, Flores Timur, Sikka, Ngada, Nagekeo, Sumba Barat, Sumba Barat Daya, Sumba Tengah, Sumba Timur, Timor Tengah Utara (TTU), Lembata, Manggarai Timur, Kupang dan Timor Tengah Selatan (TTS).

Dari 15 kabupaten ini, titik panas terbanyak terdapat di Kabupaten Sumba Timur di Pulau Sumba yakni terdapat 79 titik panas.

Titik panas tersebut tersebar pada sepuluh wilayah yakni Nggaha Ori Anggu, Ngadu Ngala, Karera, Kambata Mapambuhang, Tabundung, Pandawai, Lewa, Haharu, Umbu Ratu Nggay, dan Katikutana.

Agung Sudiono menjelaskan, titik panas dapat digunakan untuk identifikasi awal kejadian kebakaran hutan dan lahan.

Selang kepercayaan atau confidence level menunjukkan tingkat kepercayaan bahwa hotspot yang dipantau dari data satelit penginderaan jauh merupakan benar-benar kejadian kebakaran yang sebenarnya di lapangan.

Semakin tinggi selang kepercayaan, maka semakin tinggi pula potensi bahwa hotspot tersebut adalah benar-benar kebakaran lahan atau hutan yang terjadi, katanya.

Dia menjelaskan analisis data titik panas ini menggunakan data dengan tingkat kepercayaan 80 persen.

Kondisi ini dilakukan karena SiPongi sebagai sistem monitoring kebakaran hutan dan lahan, lebih fokus untuk dapat mendeteksi indikasi kebakaran hutan, dan lahan di lapangan dengan tingkat kemungkinan tertinggi, katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ntt

Sumber : Antara
Editor : Miftahul Ulum
KOMENTAR


Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top