RPHU Tabanan Atasi Kebutuhan Daging Ayam di Bali

Keberadaan rumah potong hewan unggas di Tabanan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan daging ayam di destinasi priwisata Bali.
Ema Sukarelawanto
Ema Sukarelawanto - Bisnis.com 09 Juli 2019  |  18:45 WIB
RPHU Tabanan Atasi Kebutuhan Daging Ayam di Bali
Pedagang menata daging ayam - JIBI/Rachman

Bisnis.com, TABANAN—Keberadaan rumah potong hewan unggas di Tabanan diharapkan dapat memenuhi kebutuhan daging ayam di destinasi priwisata Bali.

 

Kepala Dinas Peternakan Provinsi Bali I Wayan Mardiana mengatakan meningkatnya kebutuhan daging ayam untuk konsumsi masyarakat dari tahun ke tahun telah membuka peluang bagi pelaku usaha skala kecil atauapun rumah tangga. 

 

“Keberadaan rumah potong hewan unggas [RPHU] di Tabanan ini agar dapat menyiapkan daging ayam yang aman, sehat, utuh, dan halal,” katanya saat meresmikan rumah potong hewan unggas (RPHU), Selasa (9/7/2019).

 

Menurut Mardiana banyak pelaku usaha yang melakukan pemotongan ayam pada tempat tempat yang tidak layak seperti berlokasi di daerah padat pemukiman dan kondisinya secara umum tidak memenuhi persyaratan secara hygiene sanitasi. 

 

Sehingga daging ayam yang beredar di masyarakat kurang memenuhi persyaratan yang aman , sehat, utuh dan halal (ASUH). Kondisi tersebut dapat menimbulkan pencemaran terhadap lingkungan . 

 

Ia menyebut selain menyediakan kebutuhan daging ayam, RPUH yang baru di Banjar Tireman, Desa Bengekl Sari, Selemadeg Barat, Kabupaten Tabanan tersebut dapat memotivasi peningkatan produksi ternak ayam di Bali yang akan berdampak pada peningkatan perekonomian masyarakat. 

 

RPHU milik Charoen Pokphand Indonesia ini memiliki kapasitas produksi 2.000 ekor ayam per jam dengan fasilitas pendingin hingga 45 ton untuk ayam segar, 50 ton untuk ayam beku dan 50 ton untuk food process product. 

 

Sesuai dengan visi  dan misi Gubernur Bali Wayan  Koster yakni Nangun Sat Kerthi Loka Bali , pangan merupakan salah satu program prioritas yang dipolakan dan diintegrasikan mulai dari hulu sampai hilir.

 

Didukung dengan terbitnya Pergub Nomor 99 Tahun 2018 tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali, termasuk di dalamnya produk peternakan, maka toko swalayan, hotel , restoran dan katering wajib mengutamakan pemanfaatan produk peternakan lokal Bali paling sedikit 30% dari kebutuhan. 

 

Kebutuhan daging ayam di Bali mencapai 10,82 kg per kapita per tahun pada 2018 dan diperkirakan akan terus naik. 

 

“Ini harus diiringi dengan pertumbuhan peternakan ayam dan instrumen pendukungnya seperti RPHU yang representatif. RPUH ini saya harapkan dapat memotivasi peningkatan produksi ternak ayam di Bali," ujarnya.

 

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan I Ketut Diarmita mengatakan rumah potong hewan unggas dengan persyaratan teknis yang memadai menjadi hal penting dalam penyediaan pangan asal hewan yang aman, sehat, utuh, dan halal sehingga pangan asal hewan yang dikonsumsi masyarakat terjamin keamanannya.

 

Diarmita menambahkan dengan adanya fasilitas pendingin (cold storage) diharapkan dapat mencegah membanjirnya daging ayam di pasar yang dapat menyebabkan jatuhnya harga.

 

“Sebaiknya daging ayam tidak hanya dijual sebagai ayam segar melainkan ayam beku, ayam olahan ataupun inovasi produk lainnya,” katanya. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, daging ayam

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top