Festival Tepi Sawah Hadirkan Gerakan Sadar Lingkungan di Bali

Festival Tepi Sawah III pada 6-7 Juli 2019 di Pejeng, Ubud, Gianyar bakal menghadirkan gerakan kesadaran lingkungan melalui berbagai aktivitas di nataranya melalui kolaborasi seni dan edukasi.
Ema Sukarelawanto
Ema Sukarelawanto - Bisnis.com 25 Juni 2019  |  17:31 WIB
Festival Tepi Sawah Hadirkan Gerakan Sadar Lingkungan di Bali
Persawahan di Bali - Antara/Nyoman Budhiana

Bisnis.com, DENPASAR--Festival Tepi Sawah III pada 6-7 Juli 2019 di Pejeng, Ubud, Gianyar bakal menghadirkan gerakan kesadaran lingkungan melalui berbagai aktivitas di nataranya melalui kolaborasi seni dan edukasi.


Festival Tepi Sawah yang digagas tiga aktivis seni yakni Nita Aartsen, Anom Darsana, dan Etha Widiyanto ini mengusung semangat nusantara sebagai konsep utama yang diterjemahkan dalam sejumlah kegiatan oleh para pemilik talenta yang didatangkan dari berbagai wilayah.


“Yang spesial, kami menghadirkan sinden Endah Laras yang jago meramu jazz dan koleganya dari Solo, dalang cilik Narend dari Bali dan penari Papua Mania,” kata Nita Aartsen, Selasa (25/6/2019).


Dari sisi edukasi festival mempersembahkan beberapa pelatihan misalnya workshop film bersama Erick Est, cukil bersama Rumah Kelima, tari bersama Dayu Ani dan Prof Made Bandem.


Hal lain yang tak kalah penting utuk diperhatikan adalah tata panggung, tata lampu, dan tata suara yang mampu menunjang berbagai pesan dari aktivitas yang memasuki tahun ketiga peneyelnggaraan ini.


“Kami berupaya menyuguhkan festival yang ramah dengan anak-anak, dan keluarga. Untuk itulah kebutuhan sound, lighting digarap sesuai dengan keluarga yang hadir agar nyaman bagi mata dan telinga penjgunjung,” jelas Anom Darsana.


Sedangkan dari sisi lingkungan, festival yang intens melahirkan dan memperkenalkan inovasi baru untuk mengedukasi masyarakat ini akan mengajak pengunjung  menjaga kebersihan lingkungan dengan mengurangi produksi sampah dan menularkan kebiasaan tersebut kepada warga di sekitar.


Kata dia ada pula pelatihan oleh seniman Made Taro dan Little Talks serta kegiatan pojok seni bagi  anak-anak untuk menyulap berbagaiu bahan daur ulang menjadi sesuatu yang lebih berguna.


Festival ini juga berkolaborasi dengan Clean Bali Series, sebuah program buku dan pendidikan tentang kesadaran lingkungan untuk anak-anak sejak 2006 yang aktif menggalang program bulanan “Bali Bersih”.


Anom berharap melalui kebersamaan menjadikan Festival Tepi Sawah sebagai pembawa pesan kesadaran kelestarian lingkungan dengan prinsip kurangi, gunakan kembali, dan daur ulang (reduce, reuse, and recycle) baik dalam hal produksi, penjualan makanan minuman, penanganan sampah, dan pembuangan limbah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, lingkungan hidup

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top