Delegasi ISBI Papua Pentas Seni di Pesta Kesenian Bali

Ekspresi dan gerak dinamis para penari dengan busana serta dandanan khas Papua memukau pengunjung.
Ema Sukarelawanto
Ema Sukarelawanto - Bisnis.com 17 Juni 2019  |  18:11 WIB

Bisnis.com, DENPASAR — Delegasi Institut Seni Budaya (ISBI) Tanah Papua menampilkan pergelaran ‘Nggo Wor Bai Do Na Nggomar’ yang artinya ‘Kalau Tidak Menyanyi dan Menari Kami Akan Mati’ di Art Center, Taman Budaya Bali, Minggu (16/6/2010) malam.

Penonton terhibur dengan sajian 29 mahasiswa ISBI Tanah Papua yang dipimpin Rektor Prof. I Wayan Rai yang menampilkan gerak dan nyanyian. Ekspresi dan gerak dinamis para penari dengan busana serta dandanan khas Papua memukau pengunjung.

Pada sebuah adegan, istri Gubernur Bali yakni Putri Koster membacakan puisi berjudul ‘Aku Papua’ dengan musikalisasi dan kolaborasi bersama mahasiswa ISBI Tanah Papua.

Putri Koster membaca puisi di atas rakit atau tepatnya seni instalasi di atas sungai yang membelah Art Center. Lampu warna-warni ditingkahi bebunyian musik dan vokal mengiringi pembacaan puisi Putri Koster dengan improvisasi yang menarik.

Adegan berikutnya ke panggung Ayodya dengan tarian Isoholo. Tarian khas Sentani ini menggambarkan suka cita sebagai simbol kerukunan antarsuku di Papua. Pagelaran yang berlangsung selama dua jam ini mengundang decak kagum para penonton dengan memberikan aplaus kepada para seniman.

Puisi ‘Aku Papua’ sendiri merupakan karya putra asli Bali yang juga Rektor ISBI Tanah Papua Prof. I Wayan Rai. Kata dia penampilan para mahasiswanya itu merupakan bagian dari kunjungan balasan setelah Putri Koster ke Papua beberapa waktu lalu.

“Meskipun baru akan meninjak usia 5 tahun, ISBI Tanah Papua berusaha menunjukkan penampilan terbaik dari seni dan budaya Papua,” kata Rai.

Gubernur Bali Wayan Koster mengatakan lahirnya UU No. 5 Tahun 2014 tentang Pemajuan Kebudayaan —yang saat dia menjadi anggota DPR RI ikut menggodoknya—di antaranya bertujuan untuk menggairahkan pembangunan seni dan budaya di seluruh Indonesia dengan karakter daerah masing-masing.

Kata dia sebelum dijajah Belanda dan Jepang, Indonesia sangat kuat dengan tradisi dan budayanya. Sayangnya, setelah kemerdekaan, seni dan budaya pun tidak mendapat ekosistem yang baik. Yang lebih memprihatinkan, belakangan banyak terjadi kekerasan, radikalisme dan terorisme di sejumlah daerah di Indonesia.

Itu sebabnya Koster bertekad menata kembali Pesta Kesenian Bali agar benar-benar menjadi ajang pesta yang sesungguhnya bagi masyarakat Bali. Ia sangat mengapresiasi keikutsertaan ISBI Tanah Papua dalam Pesta Kesenian Bali untuk mempererat rasa persaudaraan dan kebhinnekaan di Indonesia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top