‘Balinese Masters’ Suguhkan Eksistensi 34 Seniman Asli Bali

Pameran “Balinese Masters: Aesthetic DNA Trajectories of Balinese Visual Art” menyajikan karya 34 seniman asli Bali.
Ema Sukarelawanto | 23 Mei 2019 16:26 WIB
Salah satu karya Nyoman Erawan yang dipamerkan dalam acara Balinese Masters: Aesthetic DNA Trajectories of Balinese Visual Art, 25 Mei-14 Juli 2019 di Nusa Dua, Bali. - Bisnis/Ema Sukarelawanto

Bisnis.com, MANGUPURA – Pameran “Balinese Masters: Aesthetic DNA Trajectories of Balinese Visual Art” menyajikan karya 34 seniman asli Bali berupa seni instalasi, patung, lukisan, gambar, dan objek.

Pameran yang digelar Heri Pemad Management di AB-BC Building, Bali Collection, ITDC Nusa Dua ini rencananya dibuka Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid pada Sabtu (25/5/2019) dan akan berlangsung hingga 14 Juli 2019.

Kurator Rifki Effendy mengatakan pameran ini membahas jalan dan perkembangan estetika seni rupa Bali – tumbuh dari perupa-perupa Bali yang berada di Pulau Dewata maupun di luarnya – yang terpadukan antara ekplorasi seni dan estetika dengan nilai-nilai budaya dan kepercayaan Bali serta pengaruh lainnya di luar lingkup tersebut.

“Pameran ini menyoroti berbagai pencapaian estetik dan hasil artistik para pelaku seni berdarah Bali, baik yang tinggal di Bali maupun di luar Bali,” katanya, Kamis (23/5/2019).

Karya yang dipamerkan sangat beragam mulai dari seni gambar, lukisan, pahatan patung kayu, logam maupun batu, hingga garapan instalasi berbagai materi. Dengan berbagai kecenderungan bentuk estetik dan ragam corak seperti simbolisme, realisme, surealistik, mistisisme, ekspresionistik, dekorativisime , formalisme, abstraksi hingga fotorealistik maupun berbagai paduannya.

Menurut Rifki rerajahan, gambar, seni lukis, pahat dan arsitektur Bali mempunyai tempat tersendiri dalam sejarah perkembangan seni rupa di Indonesia. Seni lukis Bali muncul, tumbuh dan tetap lestari karena telah menjadi bagian dari berbagai ritual keagamaan dan keseharian masyarakat sejak berabad–abad lalu dan kemudian berinteraksi aspek-aspek perubahan jaman serta budaya dari luar Bali yang dikembangkan secara kolektif maupun perorangan.

Ia menyebut hal demikian itu kemudian memunculkan bentuk–bentuk seni rupa yang khas, baik yang masih mewarisi bentuk estetik klasik masa lampau maupun dengan semangat yang lebih modern dan kontemporer, maupun berbagai perpaduannya.

Bentuk-bentuk estetik tersebut tetap hadir lestari dan mengalami evolusi di dalam masyarakat, sehingga kita bisa melihat berbagai spektrum karya–karya seni rupa seniman Bali. Dengan kepekaan atau sensibilitas dan craftsmanship yang kuat dalam memahami bentuk dan material, serta merasakan dan mencerap berbagai energi alam dan lingkungannya.

Ke-34 seniman yang berpameran adalah Agung Mangu Putra, Dewa Putu Mokoh, Dewa Ratayoga, Gede Mahendra Yasa, I Made Budi, I Made Djirna, I Made Sumadiyasa, I Nyoman Tusan, I Wayan Sika, Ida Bagus Putu Purwa, Ida Bagus Rai, dan IGAK Murniasih.

Ada pula Kadek Armika, Kedol Subrata, Ketut Budiana, Ketut Moniarta, Made Budhiana, Made Griyawan, Made Wianta, Mahendra Mangku, Mangku Mura, Mangku Muriati, Mangku Nyoman Kondra, Nyoman Erawan, Nyoman Gunarsa, Nyoman Nuarta, Putu Sutawijaya, Putu Wirantawan, Wayan Bendi, Wayan Karja, Wayan Sujana Suklu, dan I Ketut Muja

Selain itu ada karya kelompok dari Komunitas Patung Padas Batubelah dan Komunitas Lukis Kaca Batubelah.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pameran seni, bali

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top