Bali Kendalikan Hama Penggerek Buah Kopi

Pemprov Bali melakukan aksi pengendalian hama pengerek buah kopi yang menyasar 100 hektare lahan di Kabupaten Tabanan.
Ema Sukarelawanto | 15 April 2019 18:00 WIB
Petani merawat tanaman kopi - Antara/Anis Efizudin

Bisnis.com, DENPASAR—Pemprov Bali melakukan aksi pengendalian hama pengerek buah kopi yang menyasar 100 hektare lahan di Kabupaten Tabanan.

Kepala Dinas Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Hortikultura Provinsi Bali Ida Bagus Wisnuardhana mengatakan kopi bali yang telah menjadi salah satu komoditas primadona di dunia internasional perlu meningkatkan daya saing tersebut.

Aksi pengendalian hama tersebut merupakan salah satu upaya untuk mendorong petani mampu meningkatkan produk kopi bali baik secara kualitas maupun kuantitas.

“Komoditas yang banyak diusahakan perkebunan rakyat ini perlu ditingkatkan kualitas maupun kuantitasnya agar produk kopi bali organik dan berkualitas ini mampu bersaing di pasar global,” katanya, Senin (15/4/2019).

Menurut Wisnuardhana salah satu kendala yang harus segera diatasi adalah menanggulangi  serangan hama penggerek buah kopi (PBKo).  

Melalui Aksi Gerakan Pengendalian OPT tanaman Kopi (Hama PBKo) yang dilakukan di Desa Kebon Padangan, Banjar Kaliukir, Pupuan, Kabupaten Tabanan diharapkan bisa mengatasi hambatan tersebut. 

“Hama ini berpengaruh langsung dan nyata terhadap penurunan produksi dan kualitas hasil biji kopi di pasaran, sehingga kerugiannya cukup besar,” katanya.

Ia menyebut jumlah kehilangan dari total hasil panen biji kopi karena hama ini mencapai sekitar 5%.  Belum lagi kerugian akibat penurunan mutu yakni biji kopi yang berlubang dll.

Menurut dia beberapa tahun ini petani masih mengandalkan insektisida sintetik atau kimia yang ternyata setelah dipergunakan terus menerus memeiliki efek negatif pada lingkungan sekitar. 

Insektisida sintetik atau kimia berdampak pada pencemaran lingkungan, kontaminasi pada buah hingga menimbulkan resistensi pada beberapa jenis serangga. 

Selain itu, karena hama  PBKo perkembangannya berada dalam buah kopi, penggunaan insektisida bisa dikatakan tidak efektif.

Wisnuardhana mengatakan bersama Kementerian Pertanian memperkenalkan perangkap feromon/atraktan yang lebih ramah lingkungan serta mudah dalam pengaplikasian. 

Gerakan dan sosialisasi ini sebagai awal dari aksi pengendalian hama PBKo dengan menyasar 100 hektare lahan di Kabupaten Tabanan sehingga diharapkan mampu menekan hama sampai batas ambang nilai ekonomi.

Kepala Kasubdit Dirjen Perlindungan Perkebunan Kementrian Pertanian Arsiah  mengatakan gerakan pengendalian hama PBKo ini sangat penting mengingat lebih dari 18 juta penduduk Indonesia menggantungkan hidup dari sektor perkebunan. 

Kata dia sektor ini berperan besar dalam ekonomi pedesaan yakni menyumbang lebih dari Rp420 triliun untuk pendapatan negara.

Arsiah mengatakan kopi sebagai komoditas perkebunan Indonesia telah menjadi identitas suatu masyarakat di beberapa daerah. Kopi bukan sekedar minuman, tetapi gaya hidup dan kultur yang berkembang turun-temurun di tengah masyarakat.

Kata dia kini Indonesia merupakan penghasil kopi arabika terbaik di dunia dengan total jumlah produksi peringkat 4 di dunia.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, hama

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top