Greenpeace Gandeng Udayana Teliti Pengembangan Energi Terbarukan

Universitas Udayana bekerja sama dengan Greenpeace Indonesia akan melakukan penelitian untuk pengembangan energi terbarukan, terutama pemanfaatan energi surya.
Ema Sukarelawanto | 12 April 2019 19:47 WIB
Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS). - Antara

Bisnis.com, DENPASAR — Universitas Udayana bekerja sama dengan Greenpeace Indonesia akan melakukan penelitian untuk pengembangan energi terbarukan, terutama pemanfaatan energi surya.

Kepala Greenpeace Indonesia Leonard Simanjuntak mengatakan penelitian tersebut akan menghasilkan peta jalan energi surya bagi Bali agar dapat menjadi pelopor transisi energi dari energi fosil, terutama batu bara, ke energi bersih dan terbarukan.

“Dari beberapa penelitian, Bali memiliki potensi energi surya yang sangat tinggi karena letak geografis dan kondisi cuacanya,” katanya seusai menandatangai nota kesepahaman bersama Rektor Universitas Udayana Prof. Raka Sudewi, Jumat (12/4/2019).

Dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik 2019-2028, mayoritas bauran energi listrik nasional pada 2028 masih berasal dari batu bara, yakni 48%. Pada saat yang sama, pemanfaatan potensi energi terbarukan di Indonesia masih sangat rendah dan jauh tertinggal dibandingkan negara Asia Tenggara lainnya, seperti Malaysia, Thailand, Filipina dan Vietnam.

Menurut Leonard potensi energi surya di Bali berkisar 32.000 GWh hingga 53.300 GWh per tahun dengan menggunakan solar PV jenis thin-film silicon sebagai opsi termurah. Dengan kata lain, potensi energi surya tersebut telah jauh melebihi kebutuhan listrik di Provinsi Bali pada tahun 2028, yaitu 9,828 GWh per tahun.

Pemanfaatan energi surya di Bali sejalan dengan komitmen Gubernur Bali I Wayan Koster untuk mewujudkan energi terbarukan dan mandiri energi di Bali. Tindak lanjutnya tentu memerlukan kerjasama dengan semua pemangku kepentingan mengingat saat ini ekspansi PLTU batu bara masih berlangsung di PLTU Celukan Bawang, Buleleng.

Bali saat ini tengah menyusun peraturan gubernur mengenai pemanfaatan energi terbarukan di Bali, yang memuat kebijakan untuk mendukung pengembangan energi terbarukan, termasuk energi surya. Selain itu, penyusunan Rencana Umum Ketenagalistrikan Provinsi (RUKP) Bali tentang pembangunan sistem kelistrikan untuk beberapa tahun mendatang juga sedang berjalan.

Penelitian bersama Center of Excellence Community Based Renewable Energy (CORE) Universitas Udayana dan Greenpeace tentang “Peta Jalan Energi Surya di Bali” bertujuan memberikan masukan bagi pergub energi terbarukan dan RUKP, untuk mendorong pengembangan energi surya di Bali.

Leonard menjelaskan penelitian ini akan mencari tahu apa saja yang dibutuhkan baik strategi maupun kebijakan untuk mencapai target tersebut. Hal ini mencakup kebijakan yang kondusif, penciptaan pasar, dan gerakan masyarakat. Penelitian yang telah dilakukan CORE menunjukkan, teknologi untuk pemanfaatan energi surya sudah sangat memadai dan secara keekonomian juga makin menjanjikan.

Ia menyebut biaya pembangkitan energi terbarukan sudah dapat menyaingi biaya pembangkitan batubara saat ini, bahkan dengan mengabaikan subsidi untuk energi batu bara. Dengan melakukan perhitungan biaya amortisasi per kWh energi yang dihasilkan oleh energi surya atap selama lebih dari 20 tahun, maka harga listrik yang dihasilkan adalah Rp 800/kWh. Harga ini 45% lebih murah dibandingkan tarif dasar listrik (TDL) yang diberlakukan PLN saat ini yang kemungkinan akan mengalami kenaikan dalam waktu dekat.

Berdasarkan hasil studi, industri energi surya akan menciptakan lebih banyak lapangan kerja. Panel surya membutuhkan jumlah pekerjaan terbanyak dibandingkan dengan sumber energi terbarukan lainnya, mencapai sekitar 3.1 juta pekerjaan di seluruh dunia (IRENA, 2017). Dibandingkan dengan energi konvensional, panel surya menciptakan sebanyak 10 pekerjaan/MW, jauh lebih tinggi daripada tenaga batu bara yang hanya menciptakan 1 pekerjaan/MW.

Dengan kata lain, untuk memenuhi seluruh kebutuhan listrik Bali pada 2027, akan tercipta lebih kurang 10,000 pekerjaan baru jika penambahan kapasitas listrik tersebut akan dipenuhi dengan menggunakan energi surya. Pemerintah Provinsi Bali akan dapat mengurangi angka pengangguran yang saat ini mencapai 22.345 orang .

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
energi terbarukan

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top