Gunung Agung Erupsi, Kolom Abu 1.000 Meter Arah Barat

Erupsi yang terjadi kali ini masih relatif kecil jika dibandingkan letusan biasanya. Bandara pun masih beroperasi normal dan tidak mengalami gangguan sama sekali karena erupsi yg terjadi masih skala kecil dan berlangsung singkat.
Ni Putu Eka Wiratmini | 15 Maret 2019 19:45 WIB
Gunung Agung mengeluarkan asap terlihat dari Denpasar, Bali, Jumat (22/2/2019). - ANTARA/Fikri Yusuf

Bisnis.com, DENPASAR - Gunung Agung kembali mengalami erupsi pada Jumat (15/3/2019) petang tepatnya pukul 18:27 WITA dengan tinggi kolom abu teramati kurang lebih 1.000 meter di atas puncak. 

Berdasarkan data yang dihimpun Bisnis, kolom abu teramati berwarna kelabu dengan intensitas sedang condong ke arah barat. Erupsi ini terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 23 mili meter dan durasi kurang lebih menit 23 detik.

Kepala Subbidang Mitigasi Pemantauan Gununh Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana mengatakan erupsi yang terjadi kali ini masih relatif kecil jika dibandingkan letusan biasanya. Bandara pun masih beroperasi normal dan tidak mengalami gangguan sama sekali karena erupsi yg terjadi masih skala kecil dan berlangsung singkat.

Menurutnya, erupsi ini terjadi karena masih ada pergerakan magma di bawah permukaan, namun masih belum besar. Erupsi wajar terjadi saat Gunung Agung masih berstatus siaga.

"Erupsi saat ini ancamannya masih di dalam radius bahaya 4 km. Jadi masyarakat yg berada di luar radius bahaya 4 km agar tetap tenang dan tetap bisa beraktivitas seperti biasanya," katanya kepada Bisnis, Jumat (15/3/2019).

Saat ini Gunung Agung berada pada Level III atau siaga. Masyarakat di sekitar Gunung Agung dan pendaki diminta agar tidak berada, tidak melakukan pendakian, dan tidak melakukan aktivitas apapun di Zona Perkiraan Bahaya.

Zona bahaya berada di seluruh area di dalam radius 4 kilometer dari Kawah Puncak Gunung Agung. Zona Perkiraan Bahaya sifatnya dinamis dan terus dievaluasi dan dapat diubah sewaktu-waktu mengikuti perkembangan data pengamatan Gunung Agung yang paling aktual.

Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung juga diminta agar mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan yang dapat terjadi terutama pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landaan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gunung agung

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top