Wagub Bali Ingatkan Pengusaha Tak Salah Arah Jalankan Bisnis di Pulau Dewata

Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati meminta para pelaku ekonomi di daerah itu tidak melawan arus dan salah arah dengan merujuk pada visi atau konsep "Nangun Sat Kerthi Loka Bali" sebagai spirit pembangunan ekonomi.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 20 Februari 2019  |  14:29 WIB
Wagub Bali Ingatkan Pengusaha Tak Salah Arah Jalankan Bisnis di Pulau Dewata
Wisatawan berfoto dengan latar belakang pemandangan alam pedesaan di kawasan Desa Bongkasa, Badung, Bali, Senin (18/2/2019). Wisata yang menawarkan suasana dan aktivitas alam pedesaan merupakan salah satu potensi wisata yang terus dikembangkan di wilayah Kabupaten Badung untuk meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara yang ditargetkan mencapai 6,8 juta orang selama tahun 2019. - Antara/Fikri Yusuf

Bisnis.com, DENPASAR – Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardhana Sukawati meminta para pelaku ekonomi di daerah itu tidak melawan arus dan salah arah dengan merujuk pada visi atau konsep "Nangun Sat Kerthi Loka Bali" sebagai spirit pembangunan ekonomi.

"Khususnya yang menekuni bidang ekonomi jangan sampai salah arah, jangan sampai salah menentukan sikap dimana proyeksi ke depan," kata Wagub Bali (Cok Ace) saat menjadi pembicara dalam 'Diskusi Publik: Nangun Sat Kerthi Loka Bali sebagai Spirit Pembangunan Ekonomi di Bali' di Denpasar, Rabu (20/2/2019).

Cok Ace mengemukakan visi pembangunan di Bali "Nangun Sat Kerthi Loka Bali" mengandung makna menjaga keseimbangan alam Bali beserta isinya, baik sekala (jasmani) dan niskala (rohani), kemudian diturunkan dalam konsep pembangunan "satu pulau" dan satu tata kelola.

"Permasalahan kita sudah jelas ketimpangan antarsektor, antarwilayah. Jadi, khususnya yang menekuni bidang ekonomi jangan sampai salah arah dan salah menentukan sikap," ucapnya pada acara yang diselenggarakan oleh Mandiri Jaya Organizer itu.

Dengan adanya persamaan persepsi melalui rujukan konsep itu, kata Cok Ace, maka arah pembangunan pemerintah dapat diketahui sehingga para pelaku ekonomi bisa masuk dalam mata rantai pembangunan dan jangan sampai melawan arus.

Guna mendukung visi "Nangun Sat Kerthi Loka Bali", Pemprov Bali sendiri sejauh ini sudah mengeluarkan sejumlah peraturan gubernur, diantaranya Pergub Penggunaan Busana Adat Bali, Pergub Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai, hingga Pergub Bali tentang Pemasaran dan Pemanfaatan Produk Pertanian, Perikanan dan Industri Lokal Bali.

Selain itu, guna melindungi para pelaku usaha pariwisata dan ekonomi kreatif, Pemprov Bali juga telah menutup toko-toko "nakal" di wilayah Benoa yang berafiliasi dengan agen perjalanan wisata dari Tiongkok yang sangat merugikan pariwisata dan pelaku ekonomi kreatif di Pulau Dewata.

"Itu karena toko tersebut menabrak norma kesantunan serta merusak citra Bali di mata internasional," ucap Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia Provinsi Bali itu.

Dalam diskusi tersebut juga menghadirkan narasumber yakni Direktur Utama BPR Kanti I Made Arya Amitabha yang menyatakan bahwa BPR Kanti sebagai bank lokal akan menyalurkan dana kepada masyarakat yang membutuhkan berbagai keperluan.

Berbagai keperluan yang dimaksud, seperti untuk pengembangan usaha, modal kerja, pembelian kendaraan, kepemilikan dan perbaikan rumah bahkan untuk keperluan insidentil seperti biaya berobat, hajatan atau keperluan pendidikan anak.

Selain itu, BPR berkomitmen mempermudah akses permodalan bagi UMKM melalui edukasi pendampingan usaha.

"Dalam pembangunan ekonomi Bali, wajib kita dukung juga dengan pembiayaan dari bank-bank lokal," ucapnya pada acara yang dihadiri oleh unsur pelaku ekonomi, mahasiswa, organisasi pemuda dan organisasi kewanitaan di Bali itu.

Sementara itu, akademisi Fakultas Ekonomi Budaya Universitas Udayana Dr Ketut Rasmini mengatakan perempuan di Bali juga berkontribusi dalam pembangunan ekonomi.

Perempuan Bali, lanjut dia, memiliki kewajiban ganda selain mengurus rumah tangga juga ikut mencari nafkah sehingga kewajiban perempuan di Bali lebih beragam dibandingkan dengan perempuan lain di Indonesia.

Oleh karena itu, tidak heran di Bali banyak asosiasi atau perkumpulan para pengusaha wanita antara lain IWAPI, Perwira, Apva, BKOW yang mayoritas pelaku usahanya adalah perempuan.

Senada dengan itu, Wakil Ketua Umum 1 IWAPI Bali Ni Wayan Parwati Asih menyatakan dukungannya pada program "Nangun Sat Kerthi Loka Bali" sebagai spirit pembangunan ekonomi Bali guna menunjang pembangunan nasional khususnya Provinsi Bali.

"Kami mendukung segala upaya yang dilakukan Pemprov Bali guna melindungi industri pariwisata dan ekonomi kreatif di tengah pasar global," ucapnya.

IWAPI Bali sendiri, lanjut dia, dengan jumlah anggota sekitar 600 orang selama ini sudah turut berkiprah dalam pembangunan ekonomi Bali melalui sejumlah usaha atau bisnis yang digeluti.

"Kami harapkan ke depan semakin banyak perempuan Bali yang bisa berkiprah secara seimbang di ranah publik dan ranah domestik. Kami meyakini hal itu bisa dilakukan perempuan Bali karena dari kecil sudah terlatih memiliki trik-trik khusus untuk manajemen waktu," kata Parwati Asih.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, pariwisata

Sumber : Antara
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Terpopuler

Top