Jumat Dini Hari Gunung Agung Kembali Erupsi

Gunung Agung kembali mengalami erupsi pada Jumat (8/2/2019) pukul 00:12 WITA. Dipastikan tidak ada desa di sekitar yang terdampak abu vulkanik.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 08 Februari 2019  |  09:36 WIB
Jumat Dini Hari Gunung Agung Kembali Erupsi
Gunung Agung Bali: Jumat (8/2/2019) dini hari erupsi minor. - Dok. Badan Geologi Kementerian ESDM

Bisnis.com, DENPASAR – Gunung Agung kembali mengalami erupsi pada Jumat (8/2/2019) pukul 00:12 WITA. Dipastikan tidak ada desa di sekitar yang terdampak abu vulkanik.

Kepala Subbidang Mitigasi Pemantauan Gunung Api Wilayah Timur PVMBG Devy Kamil Syahbana mengatakan erupsi yang terjadi pada dini hari tadi hanya terjadi sebanyak satu kali dengan tinggi kolom abu tidak teramati.

Erupsi terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 23 milimeter dan durasi kurang lebih 1 menit 37 detik.

“Kami sudah berkoordinasi dengan pihak terkait tentang sebaran abu sampai pagi tadi tidak ada laporan,” kata Devy kepada Bisnis, Jumat (8/2/2019).

Menurutnya, letusan yang terjadi merupakan erupsi minor atau tidak dengan skala besar. Namun, lava pijar teramati di puncak kawah.

Devy menjelaskan erupsi ini terjadi karena adanya akumulasi fluida magmatik dari periode sebelumnya. Ketika fluida magmatik dalam perut gunung telah penuh maka hal ini yang menyebabkan terjadinya erupsi.

Hujan juga dapat menjadi faktor eksternal terjadinya erupsi, selain adanya gempa tektonik, efek tidal, dan lainnya. Devy mencotohkan hujan pernah menyebabkan destabilasi kubah  lava Gunung Merapi. Air hujan yang masuk ke dalam sistem vulkanik berinteraksi dengan magma yang panas dan memicu terjadinya hembusan bahkan letusan.

Walaupun demikian, hujan hanya menjadi pemicu. Erupsi tetap dipengaruhi tekanan dalam perut gunung. Jika lapisan penutup atau atas gunung tidak mampu menahan tekanan ini, erupsi akan terjadi.

“Kalau kaitan langsung hujan sendiri tidak mengakibatkan erupsi, contoh gunung sebelahnya yakni Batur tidak erupsi, hujan hanya jadi faktor eksternal untuk memicu,” kata Devy.

Masyarakat yang bermukim dan beraktivitas di sekitar aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung tetap diminta mewaspadai potensi ancaman bahaya sekunder berupa aliran lahar hujan.

Hal ini terutama dapat terjadi pada musim hujan dan jika material erupsi masih terpapar di area puncak. Area landasan aliran lahar hujan mengikuti aliran-aliran sungai yang berhulu di Gunung Agung.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gunung agung

Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top