Petani Kakao Jembrana Bali Dorong Peremajaan Lahan

Petani Kakao di Jembrana berangsur angsur melakukan peremajaan lahan untuk meningkatkan volume produksi dan ekspor komoditas tersebut
Ni Putu Eka Wiratmini | 09 Januari 2019 17:38 WIB

Bisnis.com, DENPASAR – Petani Kakao di Jembrana berangsur angsur melakukan peremajaan lahan untuk meningkatkan volume produksi dan ekspor komoditas tersebut

Ketua Kelompok Subak Dana Amrtha Sari Jembrana Ketut Jegog mengatakan dengan ekpsor kakao yang dari Bali yang cukup diminati pasar luar negeri seperti Belgia, Perancis, dan Jepang telah membuat banyak petani melirik penanaman komoditas ini. Sehingga, beberapa lahan pertanian kakao dilakukan peremajaan untuk mendorong ekspor.

Seperti yang dia lakukan dengan membuka 30 hektar lahan kakao sejak Maret 2018 lalu. Jika sesuai dengan masa tanam, maka dua tahun lagi kakao tersebut telah berbuah dan siap diolah.

Setidaknya dalam 1 hektar are lahan mampu menghasilkan 1,8 ton kakao per tahun. Setelah diolah melalui fermentasi akan terjual senilai Rp40.000 per kilogram.

Adapun pihaknya akan melakukan fermentasi terhadap biji kakao tersebut selama kurang lebih dua minggu. Setelah itu, baru dibawa ke packing house yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS).

“Kemarin saja selama satu tahun kalau tidak salah, petani di daerah saya yang tergabung dalam Koperasi Kerta Semaya Samaniya (KSS) mampu menghasilkan 150 ton kakao fermentasi untuk diekspor,” katanya, Rabu (9/1/2019).

Menurutnya, pertanian kakao sangat menguntungkan sebab sekali tanam mampu berproduksi hingga 30 tahun lamanya. Belum lagi, harga yang dinilai cukup bersaing.

“Kita mengembangkan kakao organic tanpa bahan kimia sehingga cukup diminati pasar luar negeri,” katanya.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Bali Causa Iman Karana mengatakan pihaknya saat ini terus berupaya melakukan pembinaan terhadap pertanian kakao di Jembrana.

Pengembangan budidaya kakao yang dilaksanakan di Jembrana ini didasarkan pada identifikasi komoditas unggulan yang mendorong pertumbuhan dengan mengenalkan konsep local economic development (LED).

Menurutnya, kakao di Jembrana merupakan salah satu kakao terbaik dunia selain dari Pantai Gading dan Ghana. Bahkan, diakui oleh LSM pemerhati kakao dunia, Cocoa of Excellence.

“Komoditas kakao hasil budidaya Koperasi Kerta Semaya Samaniya ini juga telah berhasil menembus pasar ekspor hingga ke Perancis (Valrhona) dan Jepang,” katanya.

Tag : bali, kakao
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top