Karangasem Gelar World Cultural Village Festival 23-25 November

Pemkab Karangasem menggelar World Cultural Village Festival 2018 untuk mengaktualisasikan kembali peran warisan budaya dalam konteks kekinian.
Ema Sukarelawanto | 21 November 2018 16:04 WIB
Wisatawan mengamati letusan Gunung Agung dari Pura Lempuyang, Karangasem, Bali, Senin (27/11). - Reuters/Johannes P. Christo

Bisnis.com, DENPASAR — Pemkab Karangasem menggelar World Cultural Village Festival 2018 untuk mengaktualisasikan kembali peran warisan budaya dalam konteks kekinian.

Festival bakal digelar Jumat-Minggu (23-15/11/2018) di Desa Jungutan, Kecamatan Bebandem, Karangasem, yakni sebuah tempat istimewa berupa kawasan baru sebagai lokasi upacara Baligia dengan konstruksi bambu.

Ida Bagus Agung Gunarthawa, staf ahli Bupati Karangasem mengatakan festival ini merupkaan sebuah upaya untuk melestarikan serta mendorong karakter yang kuat bagi bentuk peradaban yang dinamis.

Konsep festival ini mencoba menjawab popularisasi budaya folklor, sesuai dengan inisiatif Unesco yang meminta masyarakat dunia untuk mempromosikan dialog antara budaya dan generasi melalui seni rakyat.

“Festival ini akan menjadi arena bertukar pengetahuan, pengalaman, dan dialog dalam upaya-upaya memajukan kebudayaan rakyat yang kaya akan nilai,” katanya, Rabu (21/11/2018).

Menurut Gunarthawa Karangasem merupakan salah satu studi kasus sebagai wilayah yang menyimpan keragaman budaya dan seni rakyat yang bernilai serta memiliki falsafah tinggi.

Ia menyebut Desa Tenganan sebagai salah satu desa Bali Aga adalah sebuah model yang masih menjalankan praktik budaya yang secara ideologis diwariskan dari para pendahulunya dalam berbagai aspek kehidupan baik ritual, sosial, seni dan budaya, lingkungan dan ekonomi.

“Konsep festival ini seiring dengan pembangunan sumber daya dan komunikasi yang tengah dibentuk melalui konsep destination branding Karangasem ‘The Spirit of Bali’ yang mengkomunikasikan kabupaten ini sebagai sumberdaya Bali yang original dan otentik,” katanya.

Penyelenggaraan festival ini juga merupakan salah satu upaya untuk mendorong pelestarian warisan budaya beserta nilai-nilai yang terkandung di dalamnya menjadi sebuah perayaan yang berdimensi pewacanaan, dialog, pentas, dan pameran serta apresiasi.

Ia mengatakan sesuai tema festival ‘Weaving Identities Celebrate Culture’, kekayaan budaya adalah keniscayaan bagi pembentukan identitas yang penting.

Selain masyarakat adat dan desa budaya di Karangasem, sejumlah peserta akan hadir mewakili entitas desa adat dari Mentawai, Kasepuhan Ciptagelar, Baduy, Kampung Naga, Rancakalong, Dayak, Sumba, dan Flores . Ada pula perwakilan masyarakat adat dari Maori- New Zealand, Aborigin-Australia, Khmu-Laos, dan Jepang.

Festival diisi berbagai kegiatan seperti sarasehan, diskusi, parade vudaya, seni kriya dan tenun, kuliner, dan oemutaran film. Selain itu ada penampilan musisi Indra Lesmana, Gus Teja, serta pertunjukan seni mepantigan.

Kasi Analisa Pasar Pariwisata Bidang Pemasaran, Dinas Pariwisata Kabupaten Karangasem Anna Christiana mengatakan festival ini merupakan bagian dari aktivasi yang penting dan konsisten bagi Kabupaten Karangasem yang telah mendeklarasikan pembangunan sumber daya melalui branding Karangasem ‘The Spirit of Bali’.

Kata dia melalui festival ini diharapkan dapat membangun jaringan masyarakat adat yang bernilai dalam mengelola pengetahuan lokal, seni dan budaya dalam memperkuat identitas dan keberagaman.

Tag : karangasem
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top