Gandeng UGM, Kemenhub Bangun Rumah untuk Korban Gempa Lombok

Kementerian Perhubungan bekerja sama dengan Fakultas Teknik (UGM) membangun 50 unit tempat tinggal bagi para korban gempa di Lombok.
Rayful Mudassir | 08 September 2018 23:52 WIB
Seorang warga berada dekat puing-puing rumahnya yang roboh terhantam gempa di Dusun Labuan Pandan Tengak, Desa Padak Guar, Kecamatan Sambelia, Lombok Timur, NTB, Senin (20/8/2018). - Antara

Bisnis.com, JAKARTA – Kementerian Perhubungan bekerja sama dengan Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (FT UGM) membangun 50 unit tempat tinggal bagi para korban gempa di Lombok, Nusa Tenggara Barat, dengan sistem Hunian Sementara Menuju Tetap (Huntrap).

Sebanyak 50 unit rumah tersebut akan ditempati oleh 50 kepala keluarga yang tinggal di sekitar Pelabuhan Pemenang, Lombok Utara, yang kehilangan tempat tinggal akibat gempa bumi yang mengguncang wilayah itu beberapa waktu lalu.

Dirjen Perhubungan Laut Kemenhub R. Agus H. Purnomo menerangkan dari total 50 unit rumah yang dibangun, 25 unit di antaranya bantuan dari Ditjen Hubla, sedangkan 25 unit lainnya bantuan Ditjen Perkeretaapian serta partisipasi dari stakeholder perhubungan laut.

Beberapa stakeholder yang terlibat seperti Indonesian National Shipowner Association (INSA), Asosiasi Pengusaha Terminal Peti Kemas Indonesia (APTPI), dan Women In Maritime (Wima) Indonesia, serta insan Perhubungan Laut.

"Pembangunan rumah ini bisa terwujud atas dukungan dan sumbangan dari pegawai Ditjen Perhubungan Laut dan Ditjen Perkeretaapian baik yang bertugas di kantor pusat maupun di unit pelaksana teknis (UPT) di daerah serta kepedulian dari stakeholder dan mitra kerja perhubungan sebagai bentuk sorporate social responsibility (CSR) bagi masyarakat," kata Agus melalui rilis yang diterima Bisnis pada Sabtu (8/9/2018).

Rumah yang didesain oleh FT UGM tersebut dibangun dengan luas 18 meter persegi dan bersifat temporer, tetapi nantinya bisa dijadikan rumah permanen yang lebih luas lagi.

"Konsepnya memang dimulai sebagai hunian sementara yang dapat dibangun cepat, relatif murah dan mudah, selanjutnya tumbuh menjadi hunian tetap secara bertahap sesuai dengan kemampuan penghuni," kata Agus.

Hingga hari ini, 10 unit rumah yang sudah selesai, dan sisanya masih berlangsung pembangunannya karena adanya kendala dan keterbatasan tukang terutama tukang las.

Agus berharap sisa pembangunan dapat berjalan lancar sesuai yang direncanakan serta dapat meringankan beban masyarakat Lombok yang terdampak gempa.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gempa lombok

Editor : M. Syahran W. Lubis

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top