Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pengusaha Menilai Bali Perlu Kepala Daerah Berwawasan Bisnis

Presiden Direktur PT Khrisna Group Anak Agung Ngurah Mahendra mengarapkan Bali saat ini memerlukan pemimpin yang berwawasan bisnis, berwawasan e-commerce (perdagangan modern), karena Pulau Dewata salah satu yang dilirik menjadi pusat perdagangan dunia.
News Writer
News Writer - Bisnis.com 22 Maret 2018  |  09:34 WIB
Pengusaha Menilai Bali Perlu Kepala Daerah Berwawasan Bisnis

Bisnis.com, DENPASAR—Presiden Direktur PT Khrisna Group Anak Agung Ngurah Mahendra mengarapkan Bali saat ini memerlukan pemimpin yang berwawasan bisnis, berwawasan e-commerce (perdagangan modern), karena Pulau Dewata salah satu yang dilirik menjadi pusat perdagangan dunia.

"Data menunjukkan, di Bali itu uang beredar per tahun hampir Rp500 triliun, tetapi semuanya pindah ke luar negeri atau luar Bali. Dengan kondisi tersebut seharusnya Bali menjadi pusat perdagangan uang, pusat perbankan," kata Ngurah Mahendra di Denpasar, Kamis (22/3/2018).

Oleh karena itu, kata dia, beharap kepada masyarakat saat memilih pemimpin harus cerdas, berwawasan, cerdik, futuristik, berwawasan bisinis modern berlandaskan teknologi tinggi.

Selain itu harus memilih pemimpin yang tidak sedang dibidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena tidak ada pemimpin yang korupsi yang tak dibidik KPK karena percuma memilih pemimpin yang tidak jujur, dan malah diincar KPK.

"Memang setiap pemimpin pasti diincar KPK, bila rekam jejaknya buruk. Sebaliknya, bila rekam jejaknya baik akan menjadi contoh bagi KPK," ujarnya.

Sebagai pengusaha, Ngurah Mahendra berharap pemimpin Bali ke depan selalu berwawasan bisnis. Hal ini beralasan karena Bali harus menjadi puncak perdagangan dunia. Potensi Bali di bidang pariwisata memang sangat besar, tetapi karena secara teknologi Bali belum bisa bersaing dengan China (Tiongkok).

"Negara China itu terkenal dengan semboyan 'murah dan cepat', dipasarkan dengan jaringan teknologi yang canggih. Total transaksi Rp500 triliun per tahun dalam semua sektor, tetapi uang itu hanya singgah di Bali," ujarnya.

Salah satu contoh kasus yang harus diperhatikan adalah misalnya Bali ini memiliki sekitar 300 ribu kamar hotel mulai melati hingga berbintang. Cukup 30 persen kamar hotel menerima produk kerajinan Bali, maka Bali akan kaya raya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dwgl

Sumber : Antara

Editor : Miftahul Ulum

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top