Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Yayasan Tahija Danai Riset untuk Turunkan Kasus Demam Berdarah

Yayasan Tahija membiayai penelitian pengendali alami demam berdarah dengue atau DBD, salah satunya dikembangkan di Indonesia melalui penelitian Eliminate Dengue Project dan diterapkan untuk menurunkan kasus penyakit ini.
Feri Kristianto
Feri Kristianto - Bisnis.com 04 Maret 2018  |  21:50 WIB
Yayasan Tahija Danai Riset untuk Turunkan Kasus Demam Berdarah
Bagikan

Bisnis.com, DENPASAR--Yayasan Tahija membiayai penelitian pengendali alami demam berdarah dengue atau DBD, salah satunya dikembangkan di Indonesia melalui penelitian Eliminate Dengue Project dan diterapkan untuk menurunkan kasus penyakit ini.

George S. Tahija, dari Yayasan Tahija mengatakan sangat perhatian terhadap kasus konsen dengan DBD yang terjadi di Indonesia dan telah mengeluarkan dana jutaan dolar untuk membiayai penelitian mengenai bakteri wolbachia ini.

Di Indonesia penyakit dengue meningkat dari 90.245 kasus pada 2012 menjadi 100.347 kasus pada 2014 dengan angka kefatalan 0.9%. “Berbagai cara sudah dilakukan untuk menanggulangi DBD di Indonesia seperti pemberantasan sarang nyamuk (PSN), Fogging maupun dengan obat nyamuk, namun belum bisa mengatasi masalah DBD,” katanya, Sabtu (3/3/2018).

Penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini mengancam lebih dari seperempat penduduk bumi atau sekitar 2,5 miliar orang. ASEAN memiliki jumlah angka kasus infeksi dengue tertinggi di dunia, dari data WHO tahu 2015, setiap tahun terdapat sekitar 390 juta orang terinfeksi virus dengue. Dari jumlah tersebut, 22.000 di antaranya, khususnya anak-anak dan remaja meninggal dunia.

Prof Adi Utarini, peneliti utama penelitian Eliminate Dengue Project (EDP) menjelaskan penelitian ini menggunakan bakteri alami wolbachia pada serangga. “Bakteri wolbachia adalah bakteri alami yang dimiliki serangga. Bahkan hampir oleh 70% serangga, tetapi bakteri ini tidak ada pada tubuh nyamuk Aedes aegypti,” katanya.

Serangga yang memiliki bakteri wolbachia seperti lalat buah, capung, dan kumbang disuntikan ke dalam telur nyamuk Aedes aegypti. Setelah telur berkembang menjadi nyamuk dewasa, kemudian dilepas untuk kawin dengan nyamuk liar lainnya. Cara kerja bakteri wolbachia adalah menghambat perkembangan virus DBD yang ada pada tubuh nyamuk aedes aegypti.

"Jadi kalau nyamuknya menggigit manusia, virusnya tak ikut masuk ke dalam tubuh manusia. Virus DBD tak bisa keluar dari dalam mulut nyamuk aedes aegypti tersebut karena ada wolbachia-nya. Dari hasil penelitian juga dinyatakan bakteri walbachia aman bagi tubuh manusia," tuturnya.

Tujuan akhir dari penelitian ini adalah ingin melihat bagaimana teknologi ini bisa menurunkan kasus DBD di Yogyakarta. Dirinya mengaku pemantauan terhadap perkembangan nyamuk ber-wolbachia ini dilakukan hingga 2019 yang kemudian akan dibandingkan dengan jumlah kasus DBD sebelumnya.

"Harapannya penelitian ini bisa menghasilkan atau menekan DBD. Jika berhasil, pada 2020, ini akan dikomunikasikan dengan pemerintah terutama Kemenkes," ujarnya.

Peter Ryan, peneliti bakteri Wolbachia di Monash University mengatakan teknologi ini ditemukan pada 2011 di Australia yakni di Monash University. Mulai 2014, teknologi ini sudah diterapkan di wilayah kecil dan pada 2016 teknologi ini diterapkan di Yogyakarta. Di negara lain teknologi ini sudah mulai digunakan seperti Brasil, Kolombia, dan Australia.

Kata dia teknologi ini sebenarnya untuk menekan virus penyebab DBD. Pihaknya juga melakukan kajian terhadap cikungunya dan malaria. Selama ini belum ada teknologi yang bisa mengendalikan DBD dan dia berharap teknologi ini menjadi solusi DBD.

 

 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dwgl
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top