Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kawasan Smart City Denpasar Perlu Inovasi Atasi Kemacetan

Kota Denpasar perlu melahirkan inovasi teknologi baru untuk meningkatkan penilaian layanan transportasi sebagai kawasan Smart City yang pada perhitungan 2017 jumlahnya sebesar 63,20% atau hanya lebih tinggi 0,6% dari rata-rata nasional.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 21 Februari 2018  |  21:48 WIB
Kawasan Smart City Denpasar Perlu Inovasi Atasi Kemacetan
Ilustrasi.
Bagikan

Bisnis.com, DENPASAR—Kota Denpasar perlu melahirkan inovasi teknologi baru untuk meningkatkan penilaian layanan transportasi sebagai kawasan Smart City yang pada perhitungan 2017 jumlahnya sebesar 63,20% atau hanya lebih tinggi 0,6% dari rata-rata nasional.

Pengamat Teknologi dari Universitas Udayana Ida Bagus Gede Dwidasmara mengatakan Denpasar memang kerap mengalami kemacetan pada jam-jam tertentu terutama saat jam pulang sekolah siswa. Jarak rumah dan sekolah yang cukup jauh menjadikan kawasan Denpasar di siang hari sering macet. Kondisi ini pun pada akhirnya menjadikan Denpasar memiliki nilai standar pada katagori ketersedian layanan transportasi di penilaian Smart City 2017.

Dia mengusulkan sudah saatnya, Denpasar sebagai Smart City memanfaatkan penggunaan teknologi untuk meminimalisir kondisi ini. Adapun Denpasar bisa mencontoh cara kerja GO-JEK maupun aplikasi jasa transportasi lainnya untuk menggantikan peran orang tua menjemput anak saat pulang sekolah. Sehingga, jika ini dilakukan kemacetan bisa diminimalisir.

Selain itu, Pemerintah juga harus mulai melakukan pemetaan arah jalur pulang maupun menuju sekolah. Ditambah, dengan adanya penyediaan transportasi masal untuk mengangkut siswa sekolah juga diyakini mampu menurunkan tingkat kemacetan tersebut.

"Untuk angkutan siswa memang sudah ada sejak Desember 2017 tetapi jumlah armadanya perlu diperbanyak," katanya kepada Bisnis saat ditemui seusai Smartcity Forum 2018 di Bali Creative Industry Center (BCIC), Rabu (21/2/2018).

Selain masalah layanan transportasi, katagori pemanfaatan energi Kota Denpasar hanya 42,3% dari rata-rata nasional yang sebesar 46,40%. Bidang lingkungan juga memiliki nilai standar yakni sebesar 61,68% atau hanya lebih tinggi 0,69% dari rata-rata nasional.

Menurutnya, Kota Denpasar dinilai belum melakukan wujud perubahan yang cukup besar pada kegiatan hemat energi maupun pemanfaatan energi ramah lingkungan.

Dia mengakui, saat ini Denpasar memang sedikit mulai berbenah salah satunya diwujudkan dengan tata kelola sungai yakni Tukad Badung yang cukup baik. Sungai yang berada di sebelah Pasar Badung ini semakin tertata bahkan bisa menjadi sarana rekreasi keluarga.

"Kita memang sumber air masih ngambil dari kabupaten lain sehingga di beberapa titik pas hujan air PDAM bermasalah," katanya.

Walaupun 3 kategori tersebut cukup rendah, namun Denpasar wajib berbangga karena 8 katagori lainnya memiliki nilai yang cukup tinggi.

Kategori itu yakni Pusat Kajian Ekonomi sebesar 66,16% dari rata-rata nasional yang sebesar 60,04%, pendidikan sebesar 73,46% dari rata-rata nasional sebesar 71,47%, industri dan pariwisata sebesar 65,96% dari 53,68%, keamanan dan bencana sebesar 56,87% dari 53,74%, kesehatan sebesar 72,38% dari 69,11%, pelayanan publik 70,08% dari 59,62%, komunitas 65,19% dari 54,31%, dan tata ruang 66,89% dari 61,98%.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dwgl
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top