Paket Murah Wisman China Akibatkan Kehilangan US$650 Juta/Tahun

Oleh: Ema Sukarelawanto 19 Oktober 2018 | 19:08 WIB
Paket Murah Wisman China Akibatkan Kehilangan US$650 Juta/Tahun
Turis China/marketingtochina

Bisnis.com, DENPASAR - Paket wisata murah melalui pemasaran ‘zero dollar tour’ dari China ke Bali mengakibatkan kehilangan devisa mencapai US$650 juta per tahun.

Ketua Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) Bali Ida Bagus Agung Partha Adnyana mengatakan praktik ‘zero dollar tour’ yang ditawarkan sejumlah biro perjalanan wisata di China merupakan salah satu penyebab tidak optimalnya penerimaan devisa pariwisata.

“Kami meminta pemerintah segera mengambil tindakan untuk menekan kerugian yang lebih besar dan agar praktik tersebut tidak merusak citra pariwisata kita,” katanya, Jumat (19/10/2018).

Menurut Agung Partha wisatawan asal China yang membeli paket wisata murah ini setiba di Bali wajib belanja ke sejumlah toko —diduga merupakan jaringan dari biro perjalanan— yang ternyata menjual barang impor.

Tak hanya itu, wiraniaga tempat belanja tersebut merupakan tenaga kerja asing yang kemungkinan tidak memiliki izin kerja atau diduga melanggar ketentuan imigrasi.

Agung Partha yang akrab disapa Gus Agung itu telah melakukan sidak ke sejumlah toko yang berkedok menjual cenderamata tersebut bersama Wakil Gubernur Bali Tjokorda Oka Artha Ardana Sukawati dan mendapati eksploitasi pariwisata yang diduga mengakibatkan kebocoran devisa.

Kata dia, dari total 1,9 juta wiosatawan Chine ke Indonesia pada 2017, sebanyak 1,3 juta di antaranya berkunjung ke Bali. Jumlah tersebut merupakan pangsa utama atau sekitar 24% dari total wisman ke Bali

Namun, dengan jumlah kunjungan yang sangat banyak, pengeluaran wisatawan China masih lebih rendah dibandingkan dengan wisatawan negara lain. 

Pengeluaran

Di Bali, rata-rata pengeluaran wisatawan China sekitar Rp9,6 juta dengan lama tinggal 4 malam 5 hari, lebih rendah dibandingkan dengan rata-rata pengeluaran wisatawan Australia, Eropa, dan Jepang. 

Sementara itu, pengeluaran wisman China di Indonesia rata-rata US$965. Ini lebih rendah dari pengeluaran wisman China di Thailand yang mencapai US$2.026 pada 2017.

Gus Agung memperkirakan adanya kebocoran ekonomi pariwisata dari eksploitasi belanja. 

Seorang wisatawan dikalikan US$100 dikalikan 5 toko dikalikan 1,3 jt wisatawan ke Bali yang 60% di antaranya mengikuti ‘zero tour fee’, total mencapai US$390 juta.

“Jumlah tersebut belum ditambah ‘lost opportunity’ sekitar US$260 juta. Jadi total kerugian dari praktik ini mencapai US$650 juta per tahun,” ujarnya.

Gus Agung menyambut niat baik Konsulat Jenderal China di Denpasar yang mengajak GIPI Bali bekerja sama untuk meningkatkan kualitas keamanan dan pelayanan pariwisata bagi wisatawan asal China.

Konsulat Jenderal China di Denpasar telah resmi bersurat ke GIPI Bali untuk meminta rekomendasi daftar usaha biro perjalanan wisata, hotel, restoran, destinasi pariwisata, tempat belanja dll. yang memenuhi standar pelayanan industri pariwisata nasional Indonesia.

Mengutip isi surat tertanggal 17 September 2018 tersebut, Gus Agung mengatakan daftar rekomendasi dari GIPI Bali akan diteruskan pihak Konsulat Jenderal ke instansi pariwisata di China sebagai referensi.

 

 

 

Editor: Nancy Junita

Berita Terkini Lainnya