Kapal Purse Seine & Rumpon Kembali Beroperasi di Perairan NTT

Oleh: Newswire 27 September 2018 | 08:37 WIB
Kapal Purse Seine & Rumpon Kembali Beroperasi di Perairan NTT
Model penangkapan purse seine./Foto FAO

Bisnis.com, KUPANG – Para nelayan tangkap di Kota Kupang, mengaku resah dengan kehadiran kapal-kapal nelayan dengan alat tangkap purse seine dari Bali yang beroperasi di sekitar wilayah perairan Provinsi Nusa Tenggara Timur(NTT).

"Kehadiran kapal-kapal purse seine dari Bali di laut Selatan Pulau Timor dan sekitarnya sudah sangat meresahkan karena hasil tangkapan berkurang drastis," kata seorang nelayan tangkap yang berbasis di TPI Tenau Kupang, Jois Latuparisa kepada Antara di Kupang, Kamis (27/9/2018).

Ia mengatakan, kapal-kapal nelayan dari Bali menggunakan alat tangkap purse seine besar yang dilingkar di sekitar rumpon-rumpon yang dipasang.

Menurutnya, cara penangkapan seperti ini membuat ikan-ikan terkumpul pada satu titik dalam jumlah banyak yang sekali dilingkar dengan pukat harimau bisa meraup paling kurang 50 ton.

"Sementara jumlah kapal purse seine yang beroperasi lebih dari 40 unit, bayangkan saja berapa ikan yang diraup ketika sekali lingkar," katanya.

Ia mengatakan, bagi nelayan tangkap pancing ulur (hand line) yang beroperasi di perairan Teluk Kupang dan sekitarnya sangat terdampak karena ikan-ikan tidak bergerak ke areal penangkapan.

Menurut Jois, sebelumnya nelayan setempat sudah menyampaikan keluhan ini kepada Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti dan petugasnya sempat dilakukan penertiban rumpon-rumpon.

"Tapi sekarang mulai banyak lagi beroperasi sehingga nelayan lokal sangat menyesalkan ini, kondisi ini tidak bisa dibiarkan terus," katanya.

Sejalan dengan itu, Ketua Kelompok Nelayan Suku Bersatu Kota Kupang, Anis Taufan, mengatakan, sudah lama nelayan setempat menolak kehadiran kapal-kapal purse seine dari Bali di sekitar wilayah perairan NTT.

Menurutnya, kapal-kapal tersebut tidak hanya merugikan nelayan lokal, namun tidak memberikan kontribusi apapun bagi pendapatan pemerintah di daerah setempat.

"Sekali beroperasi mereka meraup ratusan hingga ribuan ton dan langsung diangkut pulang ke daerah mereka, jadi kontribusi mereka tidak ada untuk daerah kita," katanya.

Ia mengatakan, selain itu kapal-kapal purse seine dari Bali juga menggunakan alat tangkap pukat harimau yang tidak ramah lingkungan.

"Kalau sekali lingkar dengan pukat harimau ini bisa mengeruk semua di dalam laut sehingga terumbu karang dan ekosistem di dalamnya jelas menjadi rusak," ujar Anis.

Sumber : Antara

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya