Petani Kakao Bali Pererat Jalinan dengan Industri Lokal

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 23 Juli 2018 | 08:15 WIB
Biji kakao./Bisnis.com

Bisnis.com, DENPASAR – Petani kakao di Jembrana, Bali, menjalin komitmen dengan PT Cau Coklat Internasional guna menjaga pasar berkelanjutan kakao fermentasi bersertifikat organik.

Ketua Koperasi KSS I Ketut Wiadnyana mengatakan perjanjian kerja sama pemasaran biji kakao fermentasi bersertifikat organik melalui satu pintu ini akan memberikan jaminan pasar berkelanjutanbagi petani di Bali.

"Koperasi KSS merupakan satu-satunya koperasi komoditas kakao di Bali yang membuka pemasaran satu pintu untuk produk biji kakao fermentasi bersertifikat UTZ dan organik di pasar premium lokal, nasional maupun internasional," katanya dalam rilis yang diterima Bisnis, Minggu (22/7/2018).

KSS adalah satu-satunya koperasi petani dari Bali yang menjual kakao dalam bentuk biji fermentasi ke pasar lokal maupun internasional. Sementara, PT Cau Coklat Internasional adalah satu-satunya perusahaan cokelatdi Bali yang dipenuhi sepenuhnya milik orang lokal Pulau Dewata.

Wiadnyana mengatakan Koperasi KSS bersama Yayasan Kalimajari telah berkolaborasi dengan 609 petani kakao dari 41 subak abian di Kabupaten Jembrana. Petani diberi pelatihan kakao ramah lingkungan, praktik gizi yang baik, penerapan pengelolaan keuangan yang bijak, termasuk sertifikasi produk.

Alhasil produk KSS kini mampu menembus pasar ekspor premium hingga ke Prancis, Jepang, dan Finlandia. Bahkan juga menjadi penyedia bahan baku untuk perusahaan pengolah coklat nasional seperti POD, Primo, Cau Coklat, Mason, Krakakoa, Tripper, P3ER, Javara, Dari K, dan lain-lain.

Selain itu, biji kakao fermentasi dari Jembrana juga mendapat pengakuan “Cacao of Excellence” yang diselenggarakan oleh organisasi Biodiversity International yang didukung oleh Salon du Chocolat di Paris, pada November 2017.

Direktur Utama PT Cau Coklat Internasional Surya Prasetya Wiguna, menambahkan perjanjian kerja sama terkait pemasaran biji kakao fermentasi bersertifikat organik ini akan dapat menguatkan komitmen dalam rantai nilai kakao di Bali pada khususnya. Sehingga petani kakao di Jembrana dapat langsung menikmati harga premium yang ditawarkan oleh pasar.

"Ini sebagai timbal balik dari konsistensi memproduksi biji kakao berkualitas premium," katanya.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya