Industri Perbankan di Bali Bukukan Aset Rp123,23 Triliun

Oleh: Feri Kristianto 21 Mei 2018 | 21:25 WIB
Industri Perbankan di Bali Bukukan Aset Rp123,23 Triliun
Karyawati beraktivitas di call center Otoritas Jasa Keuangan (OJK), di Jakarta, Senin (29/1/2018)./JIBI-Abdullah Azzam

Bisnis.com, DENPASAR — Industri perbankan di Bali selama triwulan I/2018 membukukan aset senilai Rp123,23 triliun atau tumbuh sebesar 8,1% dibandingkan dengan periode sama tahun lalu.

Perkembangan total aset ini dipengaruhi oleh pertumbuhan penghimpunan Dana Pihak Ketiga dan peningkatan penyaluran kredit yang juga didukung oleh dana antar kantor bank. Berdasarkan data OJK Regional 8 Bali Nusra, pertumbuhan dana pihak ketiga sebesar 7,81% menjadi Rp97 triliun dari periode sama tahun lalu Rp90 triliun.

 

“Komposisi DPK terbesar berasal dari perbankan umum konvensional senilai Rp86,1 triliun, kemudian bank umum syariah Rp1,1 triliun dan BPR Rp 9,7 triliun,” jelas Kepala OJK Regional 8 Bali Nusra Hizbullah, Senin (21/5/2018).

 

Adapun Pada Maret 2018 pertumbuhan kredit di Provinsi Bali tercatat sebesar 5,32% menjadi senilai Rp83, triliun. Penyaluran kredit tumbuh lebih kecil dibandingkan dengan pertumbuhan DPK, yakni hanya 5,32%.

 

Hizbullah menduga masih rendahnya dana yang disalurkan ke masyarakat karena masih terasa dampak erupsi Gunung Agung. Dia menyatakan dampak erupsi sudah dirasakan pada akhir tahun lalu ketika pertumbuhan ekonomi tumbuh lebih rendah.

 

Berdasarkan jenis penggunaan, penyaluran kredit sebagian besar pada sektor produktif sebesar 61,4%. Terdiri atas kredit modal kerja 39,77%, dan kredit investasi 21,63%.

 

Editor: Martin Sihombing

Berita Terkini Lainnya