Industri Kreatif Fesyen Ikut Angkat Ekonomi Masyarakat

Oleh: Ema Sukarelawanto 13 Mei 2018 | 06:37 WIB
National Chairman Indonesia Fashion Chamber Ali Charisma.

Bisnis.com, KUTA—Produk fesyen alias fashion karya perancang Indonesia diharapkan ikut berperan memajukan industri kreatif yang menjadi salah satu andalan untuk pengembangan ekonomi masyarakat.

National Chairman Indonesia Fashion Chamber (IFC) Ali Charisma mengatakan industri fashion ditunjang berbagai bahan yang dihasilkan dari perajin dan usaha kecil menengah yangb tersebar di seluruh Nusantara.

“Saat ini kita mendorong digunakannya kain tradisional yang merupakan warisan berharga dan selayaknya kita banggakan,” katanya di sela-sela Bali Fashion Trend, Jumat (12/5/2018) petang.

Ali mengatakan sekitar 200 anggota IFC secara aktif bukan hanya mengeksplorasi wastra nusantara, tetapi juga mendorong para perajin menghasilkan motif-motif kekinian yang bisa menembus pasar internasional.

Anggota IFC juga dituntut memberikan sumbangsih kepada UMKM yang telah mendukungnya, di antaranya dengan memberikan pelatihan dan workshop untuk meningkatkan keterampilan para perajin.

Bukan hanya perajin kain tradisional, para perancang inin juga memanfaatkan produk kerajinan yang mulai luntur seperti bordir dan sulam yang ikut mewarnai rancangan adibusana dari Indonesia.

Sedangkan untuk promosi dan pemasaran, ajang Bali Fashion Trend yang digelar tiga hari 11-13 Mei 2018 di TS Suites, Seminyak, Kuta ini menjadi salah satu kegiatan penting.

“Bali sebagai daerah pariwisata sangat menjanjikan untuk dijadikan pintu masuk dan jendela dunia industri kreatif termasuk fashion,” katanya.

Bali Fashion Trend yang menampilkan karya 80 perancang dalam dan luar negeri ini diharapkan mendatangkan lebih banyak lagi pembeli dari mancanegara.

Pada kegiatan kali ini, kata Ali, sejumlah pembeli utama yang hadir berasal dari Lebanon, Kuwait, malayisa, Taiwan, dan Hong Kong.

Deputi Direktur KPw BI Provinsi Bali Azka Subhan mengatakan industri krearif ini menjadi salah satu bagian penting pengembangan ekonomi Bali yang selama ini dominan bergantung pada sektor pariwisata.

Kata dia 50% perekonomian Bali bertumpu pada pariwisata yang snagat rentan jika ada gangguan seperti saat Gunung Agung erupsi pada akhir tayhun lalu.

“Oleh karena itu perlu ada pengembangan ekonomi baru seperti industri kreatif yang dilakukan para perancang busana ini,” katanya.

Azkla mengatakan Bank Indonesia mendukung Bali Fashion Trend dengan menampilkan hasil karya perajin kain tenun Bali yang berkolaborasi dengan perancang busana.

Ia berharap dengan kegiatan seperti ini perajin dan UMKM pendukung lainnya ikut terangkat dengan ditampilkannya produk mereka di ajang peragaan busana maupun pameran fashion.

 

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya