Satgas Pangan Bali Cermati Elpiji Oplosan & Empat Risiko Inflasi

Oleh: Feri Kristianto 03 Mei 2018 | 19:42 WIB
Satgas Pangan Bali Cermati Elpiji Oplosan & Empat Risiko Inflasi
Pekerja membongkar tabung gas elpiji 12 Kg./JIBI-Nurul Hidayat

Bisnis.com, DENPASAR—Harga tiket angkutan dan elpiji oplosan menjadi perhatian khusus tim satgas pangan Bali menjelang memasuki musim Lebaran 2018.

Deputi Direktur Kepala Perwakilan BI Bali Azka Subhan menegaskan tim satgas pangan diminta untuk bertindak tegas terhadap masih maraknya elpiji oplosan. Adapun terhadap potensi kenaikan harga tiket khususnya pesawat, tim akan berkoordinasi dengan maskapai penerbangan.

“Elpiji oplosan itu menjadi isu yang tadi kami minta untuk diantisipasi. Sumbangsih elpiji terhadap inflasi saya belum lihat detail angkanya tetapi diharapkan jadi perhatian,” tuturnya seusai rapat tim satgas pangan, Kamis (3/5/2018).

Dia menegaskan tim satgas pangan memiliki kewenangan untuk mengontrol dan mengawasi distribusi. Dengan kewenangan untuk melakukan penindakan hukum, diharapkan dapat memastikan tidak terjadinya penimpunan bahan pangan di area-area tertentu.

Azka menyatakan untuk tiket pesawat, maskapai diminta kembali menyediakan tambahan tempat duduk dan penerbangan minimal jumlahnya seperti tahun lalu. Jika dimungkinkan, maskapai tidak menaikkan harga tiket karena akan berdampak terhadap kenaikan inflasi.

Dituturkan olehnya pada tahun lalu, pengelolaan harga tiket pesawat tidak mudah dilakukan karena kebijakannya berada di maskapai penerbangan. Pihaknya sebatas memberikan imbauan saja. Namun, pada tahun lalu, TPID diklaim berhasil memohon maskapai untuk menambah jumlah penerbangan dan kursi sehingga dampak kenaikan tiket tidak terlalu tinggi.

“Setidak-tidaknya seperti tahun lalu, kalau reguler tahun lalu kebijakan tambahan seat dan flight. Kami akan koordinasi dengan dinas perhubungan. Nanti dengan dishub yang concern. Masalah transportasi tidak hanya di udara saja tetapi darat dan laut juga,” jelasnya.

Risiko Inflasi

Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) Bali diminta meningkatkan kewaspadaan dalam upaya mengendalikan tingkat inflasi karena adanya sejumlah risiko yang muncul pada 2018.

Gubernur Bali Made Mangku Pastika menyatakan setidaknya ada empat risiko yang harus diwaspadai pada tahun ini. Pertama, masih tingginya ketergantungan pasokan bahan pangan dari luar Bali.

“Kedua, risiko kenaikan harga minyak yang acuan penetapan tarif beberapa komoditas kelompok administered prices,” jelasnya dalam pernyataan tertulis, Kamis (3/5/2018).

Ketiga, peningkatan tekanan permintaan seiring hari besar keagamaan, yakni Galungan dan Kuningan dilanjutkan Waisak, Lebaran dan Idul Fitri. Keempat, peak season kunjungan wisman dibarengi liburan sekolah dan kenaikan wisman serta pelaksanaan IMF & World Bank Annual Meeting pada Oktober mendatang.

Secara tahunan, tingkat inflasi Bali pada April dinilai masih dalam tingkat yang baik dengan capaian sebesar 3,24% (YoY). Angka itu masih lebih rendang dibandingkan dengan capaian inflasi nasional yang sebesar 3,41%.

Namun, secara kumulatif tingkat inflasi Bali sebesar 1,72% atau lebih tinggi dibandingkan dengan capaian nasional yang sebesar 1,09% pada April 2018. Angka kumulatif tersebut juga diatas rata-rata inflasi Bali dalam periode sama dalam rentang tiga tahun terakhir.

Editor: Miftahul Ulum

Berita Terkini Lainnya