Investor Asing Lirik Bali Utara, PMA 2017 Naik 96%

Oleh: Ni Putu Eka Wiratmini 19 April 2018 | 13:45 WIB
Investor Asing Lirik Bali Utara, PMA 2017 Naik 96%
Pantai Atuh di Nusa Penida/Istimewa

Bisnis.com, DENPASAR – Penanaman modal asing yang masuk ke Bali Utara terus menujukkan peningkatan. Nilai realisasi investasi pada 2017 naik 96% dibanding 2016 yang hanya sebesar US$ 11,245 juta.

Penanaman Modal Asing (PMA) di Bali Utara memang menunjukkan angka yang positif sejak 2014. Adapun nilai investasi PMA pada 2013 hanya sebanyak US$6,503 juta, kemudian naik 105% menjadi US$ 260,857 juta pada 2014.

Sementara pada 2015 nilainya sempat turun 58% menjadi US$ 107,170 juta. Nilainya memang semakin menurun pada 2016 menjadi US$11,245 juta. Namun, pada 2017 kembali tinggi hingga dengan kenaikan 96% menjadi US225,900 juta.

Sama halnya dengan PMA, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) di Bali Utara juga menunjukkan peningkatan, bahkan nilainya terus merangkak naik. Adapun pada 2013 nilainya Rp201 miliar dan naik 22% pada 2014 menjadi Rp259 miliar.

Pada 2015 nilainya naik 30% menjadi Rp337 miliar. Realisasi investasi pada 2016 naik 17% menjadi Rp409 miliar dan 2017 naik hingga 174% menjadi Rp1,122 triliun.

Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu Ida Bagus Made Parwata mengatakan hampir setiap tahun nilai investasi di Bali Utara terus naik. Hal ini terjadi sejak Gubernur Bali pada 2011 melakukan moratorium pembangunan hotel di Bali Selatan. Moratorium ini menjadikan investor beralih untuk melakukan pembangunan hotel ke Bali Utara.

Moratorium itu yakni penghentian sementara penerbitan persetujuan prinsip, baik pendaftaran penanaman modal ataupun izin prinsip penananaman modal untuk bidang usaha jasa akomodasi (hotel berbintang dan hotel melati). Namun, pada 2016 moratorium itu dicabut sehingga mengizinkan kembali pembanguann hotel di Badung pada 2016 dan di Denpasar pada 2017.

Kata dia, investasi di Bali memang sebanyak 85% untuk kepentingan pariwisata. Baru setelahnya, sektor sekunder seperti perdagangan dan primer berupa pertanian.

“Sekarang orang asing memang banyak membangun ke Bali Utara, dampak moratorium ini memang luar biasa,” katanya kepada Bisnis, Kamis (19/4/2018).

Berdasarkan data perkembangan realisasi investasi PMA di Bali, Kabupaten Buleleng menempati urutan nomor dua setelah Badung pada 2017 yang nilai investasinya mencapai US$365 juta. Setelah Badung dan Buleleng, Kota Denpasar menjadi wilayah ketiga yang realiasi investasinya tertinggi yakni sebesar US$52 juta. Untuk PMA, hampir semua realisasi investasi di masing-masing wilayah Bali menunjukkan pola yang fluktuatif.

Sementara, untuk PMDN, realisasi investasi terbesar pada 2017 dimiliki Denpasar dengan nilai Rp5,666 triliun. Klungkung menempati urutan nomor dua realisasi investasi terbesar selama 2017 dengan nilai Rp2,881 triliun. Baru selanjutnya, ada Buleleng dengan nilai Rp1,122 triliun.

Menurut Parwata, untuk PMDN, justru Klungkung cukup menyita perhatian. “Klungkung sudah mulai meningkat investasinya karena pariwisata Nusa Penida,” katanya.

Editor: Saeno

Berita Terkini Lainnya