Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Penjualan Ritel Bali Meningkat 25 Persen

Berbeda saat pandemi, saat ini peningkatan paling tinggi terjadi di sektor makanan dan minuman, selaras dengan semakin bergeliatnya aktivitas masyarakat.
Ilustrasi suasana pusat perbelanjaan. /Bisnis-Himawan L Nugraha
Ilustrasi suasana pusat perbelanjaan. /Bisnis-Himawan L Nugraha

Bisnis.com, DENPASAR – Penjualan ritel di Bali mulai meningkat setelah pandemi seiring dengan pemulihan ekonomi yang sedang berjalan dan mulai bergeliatnya industri pariwisata.

Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Bali mencatat saat ini penjualan ritel sudah meningkat 25 persen jika dibandingkan pada saat pandemi pada 2021. Berbeda saat pandemi, saat ini peningkatan paling tinggi terjadi di sektor makanan dan minuman, selaras dengan semakin bergeliatnya aktivitas masyarakat setelah tidak adanya pembatasan. Sedangkan saat pandemi penjualan yang meningkat di sektor ritel yakni obat-obatan dan alat kesehatan.

Ketua Aprindo Bali, Anak Agung Agra Putra, menjelaskan peningkatan penjualan ritel paling tinggi terjadi daerah pariwisata seperti kabupaten Badung. Sedangkan di daerah non pariwisata peningkatan penjualan masih di bawah sepuluh persen. Hingga Desember 2022, diproyeksikan industri ritel di Bali belum tumbuh tinggi seperti saat kondisi normal karena ekonomi Bali belum pulih seratus persen.

“Kami tetap optimis terjadi pertumbuhan penjualan hingga akhir tahun, tetapi kami tidak menargetkan tinggi karena masyarakat masih hati-hati dalam belanja, ada penyesuaian harga, kemudian prediksi resesi yang membuat masyarakat hati-hati untuk berbelanja,” jelas Agra saat dihubungi Bisnis, Jumat (14/10/2022).

Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) juga juga berimbas terhadap naiknya harga barang hingga sepuluh persen. Hal tersebut membuat masyarakat tidak agresif dalam belanja.

Sementara itu, Bank Indonesia mencatat Indeks Penjualan Ritel (IPR) secara bulanan meningkat tipis 0,33 persen menjadi 95,4 persen pada September 2022. Pertumbuhan ritel Bali bersumber dari penjualan kelompok makanan, minuman dan tembakau yang tumbuh 3,8 persen, kemudian kelompok informasi dan komunikasi tumbuh 2,1 persen, serta kelompok usaha lainnya tumbuh 3 persen.

Sedangkan penjualan kelompok suku cadang dan aksesoris mengalami kontraksi sejumlah 14,6 persen, dan kelompok bahan bakar kendaraan bermotor atau BBM mengalami kontraksi 12,4 persen. Meskipun dua kelompok mengalami kontraksi, BI memproyeksikan penjualan ritel tetap terjaga karena ditopang oleh penyaluran Bantuan Langsung Tunai (BLT) oleh pemerintah untuk menjaga daya beli masyarakat. (C211)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Miftahul Ulum

Topik

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper