Sawah Organik di Bali Diperluas, Begini Capaiannya

Targetnya pada 2023 sejumlah 70.000 hektare lahan sawah akan menjadi lahan pertanian organik yang lebih bersih dan ramah lingkungan.
Subak di Bali./kemdikbud
Subak di Bali./kemdikbud

Bisnis.com, DENPASAR — Pertanian di Bali secara bertahap diubah dari pertanian konvensional menjadi pertanian organik untuk mewujudkan pertanian yang ramah lingkungan.

Pemerintah Provinsi Bali telah melakukan transisi ke pertanian organik melalui perubahan sawah konvensional ke sawah organik. Hingga Juli 2022, sejumlah 29.800 hektare sawah yang awalnya masih menggunakan pupuk kimia diubah menjadi lahan organik dan tidak boleh lagi menggunakan pupuk kimia di lahan tersebut.

Gubernur Bali I Wayan Koster, menjelaskan targetnya pada 2023 sejumlah 70.000 hektare lahan sawah akan menjadi lahan pertanian organik yang lebih bersih dan ramah lingkungan. Selain itu, sejumlah 150.000 hektare ladang dan perkebunan Bali sudah diubah menjadi lahan organik. Targetnya 200.000 hektare lahan ladang dan perkebunan bisa menjadi lahan organik.

Pengembangan pertanian organik merupakan target Bali untuk berkontribusi dalam penurunan emisi karbon dan membangun ekonomi hijau Bali.

"Kami sedang fokus dalam penataan ulang ekonomi Bali, transformasi sektor pertanian menjadi salah satu fokus kami, kami ingin mengembalikan sektor pertanian Bali yang sesuai dengan kebudayaan Bali, yakni pertanian organik," jelas Koster, Senin (8/8/2022).

Pengembangan pertanian organik juga menjadi salah satu langkah Bali untuk melepas ketergantungan dari sektor pariwisata, yang berkontribusi 54 persen atau paling besar terhadap ekonomi Bali.

Koster menjelaskan pengembangan pertanian organik sudah diatur dalam Peraturan Daerah (Perda) Nomor 8 tahun 2022.

Pandemi Covid-19 membuat Pemprov mengusung kebijakan fundamental dalam penataan ulang ekonomi Bali, dengan tidak lagi memprioritaskan sektor pariwisata sebagai sektor utama yang harus dikembangkan. Bali akan lebih fokus dalam pengembangan sektor pertanian organik, perikanan, energi hijau, ekonomi kretaif fan digital.

"Pandemi mengajarkan kami bahwa pariwisata Bali yang selama ini kelihatan mewah tapi sebenarnya rapuh. Pengembangan ekonomi Bali kedepan harus berbasis kebudayaan dan kemandirian, sehingga Bali tidak bergantung sepenuhnya dari kontribusi dunia luar," jelas Koster. (C211)

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Editor : Miftahul Ulum
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper