Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Urgensi Hilirisasi Produk Pertanian Untuk Pariwisata Bali

Pelaku usaha yang tergabung dalam Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali menilai Pulau Dewata perlu melakukan perubahan zonasi wilayah usaha.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 25 Maret 2021  |  09:39 WIB
Warga memetik jeruk Siam Madu atau jeruk Berastagi di perkebunan kawasan dataran tinggi Karo, Merek, Karo, Sumatra Utara, Selasa (3/4). - Antara/Anis Efizudin
Warga memetik jeruk Siam Madu atau jeruk Berastagi di perkebunan kawasan dataran tinggi Karo, Merek, Karo, Sumatra Utara, Selasa (3/4). - Antara/Anis Efizudin

Bisnis.com, DENPASAR -- Pelaku usaha yang tergabung dalam Nawa Cita Pariwisata Indonesia (NCPI) Bali menilai Pulau Dewata perlu melakukan perubahan zonasi wilayah usaha. Pembangunan industri hilirisasi yang mendukung sektor pariwisata perlu merambah wilayah perdesaan.

Ketua NCPI Bali Agus Maha Usadha mengatakan perubahan zonasi perlu dilakukan lantaran selama ini tidak ada sinkronisasi daerah wisata dengan daerah pertanian yang identik dengan perdesaan. Contohnya, Bali Utara dengan sektor pertanian dan Bali Selatan dengan sektor pariwisata.

Menurutnya, Bali telah memiliki pergub mengenai pemanfaatan pertanian lokal. Namun, dalam praktiknya, produk pertanian dari Bali Utara tidak sepenuhnya memenuhi aspek kualitas yang dibutuhkan sektor pariwisata di wilayah Badung Selatan.

Agus pun menilai, lantaran hal tersebut, industri pariwisata seharusnya diizinkan mendekati wilayah pertanian untuk memberikan nilai tambah pada sektor usaha tersebut. Misalnya, dengan membangun industri pengolahan produk pertanian berupa factory processing juice maupun dry food di wilayah Bali Utara.

Contoh lainnya, adalah daerah Kerta di Ubud yang menghasilkan komoditas jeruk. Namun, jeruk hasil panen kerap kali dibuang sehingga perlu dibangun suatu industri yang bisa menjembatani kebutuhan sektor pariwisata dengan hasil produk pertanian tersebut.

"Kami harap industri diizinkan mendekati wilayah pertanian untuk memberikan nilai tambah, jadi ada processing zona yang selama ini tidak bertemu, sehingga pemerintah daerah setempat bisa melakukan adjustment perubahan zonasi usaha mengacu pada kebutuhan pariwisata," sebutnya, Rabu (24/3/2021).

Menurutnya, desain pembangunan industri-industri baru tersebut tetap harus berhubungan dengan pariwisata. Hilirisasi produk pertanian harus mendukung sektor pariwisata yang ada di Bali. Nantinya, diharapkan, Bali tidak hanya mengandalkan sektor pariwisata untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Namun, sektor pariwisata menjadi payung untuk mendorong pembentukan industri-industri baru.

"Agro itu berlindung dibalik pariwisata, semua kita lihat peluang perubahannya seperti apa, dasarnya kita sepakati bersama, apa kta setuju, pariwisata menjadi payung untuk semua usaha di Bali," sebutnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali
Editor : Ni Putu Eka Wiratmini

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top