Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ini Alasan Sektor Pertanian Mampu Menopang Ekonomi Bali

Sektor pertanian tumbuh cukup stabil dengan kontraksi -0,53 persen pada kuartal akhir 2020 dibandingkan kinerja sektor hotel dan restoran terkontraksi sangat mendalam hingga -31,8 persen.
Luh Putu Sugiari
Luh Putu Sugiari - Bisnis.com 18 Februari 2021  |  11:38 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, DENPASAR - Sektor pertanian tumbuh cukup stabil dengan kontraksi -0,53 persen pada kuartal akhir 2020 dibandingkan kinerja sektor hotel dan restoran terkontraksi sangat mendalam hingga -31,8 persen. Sedangkan sektor perdagangan dan sektor industri berkontraksi masing-masing -9,8 persen, dan -7,5 persen.

Deputi Direktur Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali M. Setyawan Santoso mengatakan sektor pertanian memiliki kontribusi cukup besar yakni 13,5 persen, atau kedua terbesar setelah sektor perhotelan dan restoran dalam perekonomian Bali. Selain itu, bidang pertanian memiliki ketahanan yang cukup kuat terhadap tekanan permintaan dan penawaran.

"Kuatnya sektor ini karena pertanian tetap tumbuh pada saat terjadinya krisis, meski ada kontraksi tapi sangat rendah dibandingkan sektor lainnya," tuturnya kepada Bisnis, Kamis, (18/2/2021).

Selanjutnya, pertanian telah menyerap tenaga kerja tertinggi di Bali hingga mencapai 19,6 persen. Menurut Msan, hal ini karena sifat lapangan kerja di sektor pertanian fleksibel sehingga dapat mengirim tenaga kerja ke sektor lain dan dapat menyerap tenaga kerja dari bidang kerja yang berbeda pada saat terjadinya pengangguran.

Ketika terjadinya pandemi, sambungnya, jumlah tenaga kerja yang bekerja di sektor hotel restoran menurun dari 13,3 persen pada 2019 menjadi 9,7 persen di 2020, sehingga sebagian terserap di sektor pertanian yang menyebabkan pangsanya meningkat dari 18,7 persen menjadi 22,5 persen.

"Ada banyak cara untuk kembali ke sektor pertanian," tambahnya.

Adapun upaya yang dapat dilakukan yakni pertama, mendukung sektor pertanian dengan sektor industri (agro industry). Ke depan, sektor industri harus diarahkan menuju agro industry, yaitu industri yang mengolah hasil-hasil pertanian.

Agro industry, lanjutnya, tidak selalu melakukan pengolahan dari bahan mentah menjadi bahan makanan jadi, tetapi lebih luas lagi mencakup pengepakan (packaging) yang steril dan higienis sehingga produk pertanian dapat disimpan dan dikirim sesuai kebutuhan.

"Dengan agro industry, pemasaran produk pertanian seperti buah manggis, sawo, alpukat dan mangga dapat bertahan lebih segar dan lebih lama," kata dia.

Kedua, mendukung sektor pertanian dengan digitalisasi atau digital farming. Selama ini telah ada beberapa anak muda yang kreatif dan mengembangkan aplikasi sebagai marketplace untuk memasarkan produk pertanian kepada konsumen. Dengan aplikasi ini petani dapat menawarkan produknya di market place sementara konsumen lokal maupun importir dapat melakukan pemesanan.

"Kedepan, digitalisasi harus mencapai ke seluruh aspek pertanian mulai dari pemilihan bibit oleh petani, pembiayaan, peminjaman traktor atau mesin pengolahan, proses pengolahan, pengepakan (packaging) hingga pemasaran," jelasnya.

Terakhir adalah upaya untuk meningkatkan perhatian kepada sektor pertanian baik melalui dialog Dinas Pertanian secara langsung dengan petani. Juga dengan mempererat koordinasi dengan Badan Penelitian dan Pengembangan Kementerian Pertanian di pusat. Komunikasi yang aktif diperlukan agar Kementrian Pertanian memberikan perhatian lebih banyak terhadap Pulau Dewata dibanding provinsi lainnya.

"Dialog ini perlu untuk menjamin Bali menerapkan bibit dan teknologi terbaru yang paling efisien dalam meningkatkan produksi pertanian," tuturnya

Dia meyakini, jika hal ini dilakukan maka akan mampu mendorong perekonomian Bali seperti yang terjadi di Provinsi KEPRI dengan wisata pulau Bintan dan pulau Penyengat juga kehilangan jutaan wisman. Namun perekonomiannya pada 2020 hanya berkontraksi -3,8 persen karena memiliki sektor industri maju di kawasan ekonomi khusus.

Sementara itu, perekonomian DIY dengan wisata keraton dan candi Prambanan - Borobudur nya sepi pengunjung, namun ditopang industri pendidikan dan industri rumah tangga sehingga hanya terkonsentrasi -2,69 persen.

"Sebenarnya kita bukan beralih lagi pada sektor pertanian, tapi kembali pada sektor ini sebagai penopang ekonomi seperti sebelum 2014 silam," jelasnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali
Editor : Ajijah
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top