Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Cabai di Bali Masih Rp40.000/Kg, Daerah Lain Sudah Rp100.000/Kg

Penyaluran cabai merah di Bali melalui dua rantai distribusi yakni dari produsen ke pedagang pengecer hingga berakhir ke konsumen.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 05 Januari 2021  |  16:21 WIB
Ilustrasi.
Ilustrasi.

Bisnis.com, DENPASAR — Harga Komoditas cabai merah yang terus melambung saat ini tidak diikuti dengan perolehan margin perdagangan dan pengangkutan yang tinggi.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Bali, penyaluran cabai merah di Bali melalui dua rantai distribusi yakni dari produsen ke pedagang pengecer hingga berakhir ke konsumen. Meskipun rantai distribusinya singkat, tetapi margin perdagangan dan pengangkutan (MPP) komoditas tersebut di Bali justru tercatat menjadi yang terendah secara nasional pada 2019.

Perlu diketahui, MPP merupakan selisih antara nilai penjualan dengan nilai pembelian yang mengikutsertakan biaya pengangkutan. Adapun MPP Total dihitung berdasarkan MPP pelaku perdagangan yang terlibat dalam pola utama.

Hasil survei Pola Distribusi Perdagangan (Poldis) menunjukkan bahwa margin perdagangan dan pengangkutan (MPP) total komoditas cabai merah pada 2019 tercatat sebesar 16,53 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa kenaikan harga cabai merah dari produsen hingga ke konsumen akhir sebesar 16,53 persem.

Jika dibandingkan dengan 2018, harga cabai merah di pedagang pengepul naik 18,41 persen, sementara di pedagang pengecer harga cabai merah naik 19,77 persen. Artinya, dari 2018 ke 2019, terjadi penurunan sedalam minus 25,29 persen terhadap MPP.

Data terbaru yang dihimpun bisnis melalui website Kementerian Perdagangan, harga cabai merah di Bali per 5 Januari 2021 telah menyentuh Rp40.000 per kilogram.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Bali I Wayan Jarta mengatakan perolehan margin untuk distribusi cabai merah pada tahun ini kemungkinan juga tidak akan besar. Pasalnya, cabai merah merupakan komoditas yang tergolong unik dibandingkan produksi pertanian Bali lainnya. Cabai merah tidak mengenal sistem stok dan distribusinya tergolong cepat.

"Kalau saya melihatnya di Bali jarak antara konsumen dengan produsen dalam memperoleh produk tidak jauh, jadi petani cepattahu jarga, cabai yang naik dari Rp30.000 ke Rp40.000 seketika akan diketahui petani. Apalagi untuk cabai panen hari ini sampai di pasar juga hari ini," katanya kepada Bisnis, Selasa (5/1/2021).

Jarta menjelaskan, komoditas cabai merah berbeda dengan produk pertanian Bali lainnya seperti beras dan bawang merah yang masih dapat disimpan. Ketika harga penjualan di petani rendah, beras masih bisa disimpan hingga menunggu harganya mengalami kenaikan. Kondisi ini pun wajar membuat penjualan harga beras memiliki margin distribusi yang tinggi.

Kondisi serupa juga terjadi untuk bawang merah yang masih bisa disimpan ketika selesai dipanen.

Menurutnya, karena kondisi ini, perubahan harga pada cabai merah akan segera direspons oleh petani dengan peningkatan pada harga penjualan hasil produksi. Kondisi ini membuat perolehan margin distribusi tetap tidak akan besar meskipun harga cabai merah sedang tinggi.

"Cabai kalaupun harganya naik, karena tidak ada sistem stok dan dipengaruhi musim, sekalipun ada kenaikan harga, bicara margin pasti akan kecil berbeda dengan beras," sebutnya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali harga cabai
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top