Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tiga Kabupaten di Bali Masuk Lima Besar Kasus Tertinggi DBD

Pencegahan dan penanggulangan wabah virus corona dan wabah Demam Berdarah Dengue menjadi salah satu perhatian, khususnya di Provinsi Bali.
Dewi Andriani
Dewi Andriani - Bisnis.com 26 Desember 2020  |  12:14 WIB
Ilustrasi-nyamuk demam berdarah. - Foxnews
Ilustrasi-nyamuk demam berdarah. - Foxnews

Bisnis.com, JAKARTA — Masa pandemi wabah virus corona belum juga berakhir, tetapi di tengah pandemi ini Indonesia harus waspada dengan wabah lainnya yaitu Demam Berdarah Dengue (DBD), apalagi musim hujan sudah mulai datang.

Sejak Januari 2020 hingga tanggal 17 Desember 2020 terdapat 98.109 kasus. Dari sejumah kasus tersebut, 3 kabupaten/kota di Bali memiliki kasus tertinggi yaitu Buleleng, Badung, dan Gianyar, di samping Kota Bandung dan Kabupaten Sikka di NTT.

Berdasarkan dari data di atas, maka pencegahan dan penanggulangan wabah virus corona dan wabah Demam Berdarah Dengue menjadi salah satu perhatian, khususnya di Provinsi Bali.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali I Made Rentin mengatakan bahwa di tengah konsentrasi penuh terhadap Covid-19, pihaknya tetap tidak boleh lengah terhadap potensi bencana lain yaitu DBD.

Untuk menanggulangi kasus DBD tersebut tentu saja diperlukan kerjasama dari berbagai pihak. Salah satu pihak  yang memberikan perhatian khusus dalam kasus DBD tersebut adalah Yayasan Enesis Indonesia.

Yayasan tersebut memberikan bantuan berupa Soffel Anti Nyamuk untuk perlindungan DBD, serta Amunizer Vit C 1000mg, Antis Hand Sanitizer, Kispray Anti Kuman dan Plossa Minyak Aromaterapi Eukaliptus untuk perlindungan dari virus Covid-19 yang dibagikan kepada masyarakat Provinsi Bali melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali.

“Saya selaku Kepala Pelaksana BPBD Provinsi Bali, menerima dengan baik bantuan yang diberikan dan akan kami distribusikan kepada masyarakat. Kita juga berharap pandemi Covid-19 cepat berlalu sehingga aktivitas kembali normal, terutama Bali yang menggantungkan kehidupannya dari sektor pariwisata,” ujar I Made Rentin, dalam keterangan yang diterima Bisnis, Sabtu (26/12/2020).

Sementara itu, Ketua Yayasan Enesis Indonesia Elkana Lewerissa mengatakan bahwa kasus DBD juga perlu mendapatkan perhatian, apalagi biasanya kasus akan meningkat di akhir bulan sehingga peran tiap sektor sangat dibutuhkan untuk membantu masyarakat Indonesia mencegah wabah DBD di tengah masa pandemi.

“Kami melihat bahwa 3 kabupaten di Bali masuk dalam 5 kota/kabupaten dengan kasus tertinggi, saat ini kita sudah sangat berjuang melawan Covid-19 tapi jangan sampai lupa akan DBD, maka kita mau memberikan bantuan tidak hanya untuk COVID-19 tapi juga untuk menekan angka DBD,” tuturnya.

Selain untuk Provinsi Bali, Yayasan Enesis Indonesia juga telah memberikan bantuan kepada RSUD Wangaya dan bantuan pencegahan Covid-19 dan DBD kepada Provinsi Jawa Barat.

Selain itu sejak awal pandemi Enesis Group telah berkolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan untuk memutus mata rantai penyebaran Covid-19 dimulai dengan  memberikan bantuan 144ribu botol Antis Hand Sanitizer kepada warga Indonesia di Wuhan, Paket Kesehatan kepada BNPB, Vitamin C 1000mg gratis kepada masyarakat yang terdampak Covid-19, 10.000 paket Kesehatan kepada public transport (Kereta, Trans Jakarta dan Bandara) dan 5.000 Vitamin kepada tenaga medis di Surabaya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

demam berdarah Virus Corona
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top