Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Petani Kopi di Rinjani Didorong Tingkatkan Kualitas

Asosiasi Kopi Nusa Tenggara Barat memberikan pendampingan kepada para petani yang bermukim di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rinjani Barat.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 06 April 2020  |  15:58 WIB
Ilustrasi petani memanen kopi. - Antara/Raisan Al Farisi
Ilustrasi petani memanen kopi. - Antara/Raisan Al Farisi

Bisnis.com, MATARAM – Asosiasi Kopi Nusa Tenggara Barat memberikan pendampingan kepada para petani yang bermukim di kawasan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Rinjani Barat, Pulau Lombok, untuk meningkatkan kualitas hasil tanaman.

Ketua Asosiasi Kopi NTB Dody Adi Wibowo mengatakan kopi sebagai komoditas perkebunan unggulan daerah belum banyak mendapat sentuhan oleh pemerintah daerah, baik provinsi maupun kabupaten.

"Peta perkopian di Indonesia biasanya yang dikenal itu mulai dari Gayo di Sumatera, lalu ke Pulau Jawa mulai dari Jawa Tengah, Jawa Timur, terus ke Bali, dan langsung ke Flores. NTB tidak pernah disebut masuk sebagai penghasil kopi, padahal potensi kopi kita jutaan ton," ujarnya pada Senin (6/4/2020).

Menurut dia, nihilnya NTB dalam catatan sebagai penghasil kopi kemungkinan karena dampak cara penanaman dan panen kopi yang serba sembarang. Padahal dengan sedikit sentuhan pembinaan dan edukasi, semua tidak akan menjadi sulit, termasuk soal harga dan pemasaran.

"Sebagai penggiat, pengusaha kecil menengah, usaha pengolahan kopi serta ketua Asosiasi Kopi NTB, saya ingin memberikan edukasi dan pembinaan terlebih dahulu," ujar Dody.

Dia mengemukakan pendampingan penting dilakukan, mengingat gaung kopi Lombok di luar daerah belum ada namanya. Kondisi tersebut membuat asosiasi merasa ikut bertanggung jawab, karena secara data kopi di Indonesia, daerah NTB tidak masuk dalam hitungan sebagai daerah penghasil kopi.

Pihaknya merasa optimis prospek kopi, khususnya di Kabupaten Lombok Barat ke depan sangat cerah.

Dari 830 hektare lahan hutan kemasyarakatan (HKm), para petani paling sedikit menanam sekitar 100.000 pohon kopi dan saat ini siap panen. Sekitar 20 persen di antaranya merupakan kopi dengan sistem sambung. "Kami sudah minta restu Bupati Lombok Barat untuk melakukan edukasi kepada Gapoktan. Kami tidak pasang target volume hasil, tapi targetnya pembinaan dari hulu dulu,".

Dody  menyebutkan potensi hasil panen kopi bisa mencapai 3.000 ton biji kopi berkualitas baik.

Untuk sasaran pembinaan dari hulu, kata dia, pihak asosiasi dan gapoktan lalu memilih Kelompok Tani Hutan (KTH) Cobak Bae Dusun Rumbuk sebagai sampel pengelolaan kopi.

KTH tersebut terpilih karena tercatat sebagai anggota pengelola awal Gapoktan Alam Lestari. Dari 15 sub KTH yang ada, Gapoktan Alam Lestari memiliki anggota sebanyak 1.400 orang. Selain itu difasilitasi juga oleh koperasi serta lahan garapan seluas 830 hektare.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kopi gunung rinjani

Sumber : Antara

Editor : M. Syahran W. Lubis
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.
0 Komentar

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top