Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jalan Pintas Baru Kurangi Kesenjangan Bali Utara dan Selatan

Jalan pintas baru (shortcut) Denpasar-Singaraja di titik 3, 4 dan 5, 6 yang diresmikan Gubernur Bali diharapkan dapat mengurangi kesenjangan infrastruktur di Bali. 
Busrah Ardans
Busrah Ardans - Bisnis.com 30 Desember 2019  |  22:22 WIB
Jalan Pintas Baru Kurangi Kesenjangan Bali Utara dan Selatan
Gubernur Bali I Wayan Koster menandatangani prasasti peresmian shortcut atau jalan pintas Denpasar-Singaraja di titik 5 dan 6 di Desa Wanagiri-Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng, Senin (30/12 - 2019)
Bagikan

Bisnis.com, DENPASAR - Jalan pintas baru (shortcut) Denpasar-Singaraja di titik 3, 4 dan 5, 6 yang diresmikan Gubernur Bali diharapkan dapat mengurangi kesenjangan infrastruktur di Bali. 

Mengingat kesenjangan infrastruktur antar Bali Utara dan Selatan yang cukup besar, Koster sendiri berupaya membangun konektivitas transportasi darat-laut-udara untuk mengurangi kesenjangan itu.

"Pembangunan infrastruktur darat-laut-udara yang terkoneksi sedang dirancang untuk mendukung kebutuhan transportasi publik domestik Bali maupun kepariwisataan. Sekaligus menyeimbangkan pembangunan infrastruktur antar wilayah. Mustahil bicara keseimbangan wilayah kalau tidak ada pembangunan infrastruktur," kata Koster dalam sambutannya, di sela-sela peresmian shortcut, Senin (30/12/2019), siang.

"Astungkara titik 3, 4, 5, 6 bisa diselesaikan. Memang saya minta tanggal 30 selesai karena pasti padat arus lalulintas di sini. Kalau titik 8, 9, 10 diprogramkan 2020 ini. Masalah pembebasan lahan harus menjadi prioritas. Sehabis peresmian, saya akan bicara dengan kadis PU untuk menuntaskan pembebasan lahan bagi warga yang kira-kira masih keberatan dengan harga tanah yang ditentukan tim independen yang mengapresiel. Jadi solusi dicari untuk jalan kompromi," kata dia lagi.

Koster juga meminta pembebasan satu titik lagi di Bangkang Sidemen yang dikatakannya memiliki jalur sangat tajam dan curam. 

"Titik 11, 12 juga boleh. 2020 ini saya sampaikan ke Pak Kadis agar mulai menyusun pelaksanaan 2021. Intinya Mustahil bicara keseimbangan wilayah kalau tidak ada pembangunan infrastruktur. Jadi semua harus diawali dengan pembangunan infrastuktur," ujarnya. 

Shortcut pun dinilai memangkas waktu tempuh dari batas kota Singaraja sampai Mengwitani. Dan ditaksir menghemat satu jam perjalanan dari Denpasar-Singaraja.

Kadis Pariwisata Kabupaten Buleleng Nyoman Sutrisna, saat ditanya mengenai kesenjangan Bali Utara dan Selatan pun mengiyakan perkataan Gubernur.

"Saya kira kesenjangan infrastruktur, juga kesenjangan pariwisatanya yang dikatakan Pak Gubernur memang terjadi. Jumlah kunjungan yang lebih sedikit. Tetapi dengan adanya tambahan akses tersebut dari tahun ke tahun kunjungan wisatawan ke Buleleng semakin bertambah. Peresmian shortcut baru merupakan komponen penguat pariwisata yaitu aksesibilitas," kata dia kepada Bisnis Indonesia, melalui sambil telepon, Senin (30/12/2019).

Semakin baiknya akses dari tahun ke tahun, ditunjukkan dengan jumlah kunjungan wisatawan yang terus meningkat. 

"Data kita tahun 2015 sekitar 702.944 pengunjung, 2016, 805.458 pengunjung, 2017, 954.730 orang, 2018 ada 1.003.810 orang dan di 2019 per tanggal 29 Desember kemarin, mencapai 1.084.168 wisatawan, yang terdiri atas domestik maupun mancanegara," beber Sutrisna.

Dari penerimaan, pajak hotel, restoran, hiburan dan retribusi juga mengalami peningkatan signifikan.

Yang ditangani Dinas Pariwisata ialah retribusi. Retribusi dari tahun ke tahun meningkat, 2015 tercatat Rp944.478.000, di 2016 Rp1.885.048.000 pada tahun 2017 Rp1.988.569.500 di tahun 2018 tercatat Rp3.488.307.500.

Selanjutnya di tahun 2019 naik menjadi Rp4.933.503.000 artinya terjadi signifikan kenaikan kunjungan yang selaras dengan penerimaan retribusi. 

Dia meyakini dengan akses yang bagus, atraksi kepariwisataan lebih berkualitas. Dalam meningkatkan kepariwisataan ada 3A yang harus saling sinergi yakni akses, atraksi dan aminity.

Jika akses sudah bagus, ungkap dia, maka atraksi harus menarik minat wisatawan. Di antaranya memiliki pariwisata alam, yang ditata berkualitas.

Misalnya air terjun, jalan menuju lokasi harus ditata baik bersama masyarakat. Kemudian pariwisata budaya, seperti Wayang Wong harus terus digali di tingkat masyarakat. Dari segi pariwisata buatan, seperti water park, harus terus dipromosikan dan memberikan dampak dari sosial ekonomi masyarakat. 

Sejalan dengan itu, Pemda Buleleng juga sudah membuat peraturan Bupati no 51 tahun 2017 tentang 86 daya tarik wisata. 

Yang mana sudah ada destinasi unggulan Buleleng pada bagian barat, tengah, timur dan selatan. 

"Perlu juga peran terintegrasi antar pemerintah, swasta, universitas, masyarakat dan media," harapnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) VIII Ahmad Subki menyebutkan dengan selesainya shortcut 3, 4 dan 5, 6 akan memangkas waktu tempuh dari batas kota Singaraja sampai Mengwitani. 

Waktu tempuhnya terpangkas. Jika dari Denpasar ke Singaraja biasanya 2 jam 30 menit menjadi 1 jam 36 menit. Dengan disempurnakannya jalan, kecepatan jalannya bisa lebih tinggi. Selama ini rata-rata apalagi padat di musim liburan, kendaraan hanya bisa melintasi dengan kecepatan 20 km/jam, maksimal 30 km/jam.

"Setelah ada shortcut ini diharapkan lebih lancar. Kecepatan yang bisa dilintasi minimal 50 km/jam," kata Subki kepada wartawan.

Dia mengatakan untuk sementara, uji coba jalan dilintasi kendaraan ringan dan sepeda motor. 

"Setelah dilakukan uji akan dibuka untuk umum. Diberi waktu empat hari untuk masa uji coba dari tanggal 30 Desember 2019 sampai 2 Januari 2020. Jadi kira-kira empat hari lah. Terus tindak lanjutnya dalam proses layak uji jalan paling lama satu minggu lah. Selama-lamanya satu minggu tapi saya kira tidak lama," ungkap dia.

"Minimal jalan yang lama sudah berkurang kendaraan dan dialihkan ke sini. Di shortcut 5 dan 6 tersebut terdiri dari pembangunan jembatan sepanjang 210 meter dengan berat maksimum sampai 10 ton. Dan jalan sepanjang 1.740 meter," jelasnya. 

Titik selanjutnya ujar dia masih ada beberapa, yaitu titik 7, 8 dan 9, 10 titik.  Shortcut 7 dan 8 rencananya 2020 sudah akan dilaksanakan pembangunannya dan kini sekarang sedang proses penyempurnaan desain. 

"Awal Januari sudah masuk tender. Terutama yang shortcut 7 a b c Januari sudah masuk pengumuman lelang. Keseluruhannya tergantung sejauh mana percepatan lahan. Kalau desain sudah hampir selesai semua, tinggal masyarakat bahu-membahu menyelesaikan proses pembebasan lahannya biar konstruksinya cepat dimulai oleh kita," ujarnya.

Pembangunan shortcut 5 dan 6  di Desa Wanagiri-Desa Pegayaman, Kecamatan Sukasada, Buleleng  
sepanjang 1.950 meter dengan nilai kontrak multiyears 2018-2019 sekitar Rp 140,6 miliar yang dikerjakan oleh kontraktor PT Adhi Karya dan PT Cipta Strada lewat skema Kerja Sama Operasa (KSO).

Shortcut 3 sepanjang 480 meter dibangun dengan anggaran Rp 12,1 miliar oleh kontraktor lokal PT Aditya Sinar Pratama. 

Pembangunan shortcut 4 sepanjang 1.096 meter dengan anggaran Rp 116,2 miliar oleh kontraktor PT Nindya Karya. Terdapat pembangunan dua buah jembatan yakni sepanjang 198 meter dan 287 meter.

Seluruh ruas jalan pintas akan dibangun dengan lebar jalan 7 meter dan bahu jalan dua meter dan dilengkapi lampu penerang jalan. 

Jalan lama tetap difungsikan dan akan dilakukan manajemen lalu lintas menjadi satu arah. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali proyek jalan
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top