Saatnya Perusahaan Ikut Memikul Tanggung Jawab Budaya

Perusahaan di Indonesia sudah saatnya mengelaborasi tanggung jawab sosial menjadi tanggung jawab budaya untuk memperkuat idealisme dan karakter..
Ema Sukarelawanto
Ema Sukarelawanto - Bisnis.com 30 Juli 2019  |  18:46 WIB

Bisnis.com, DENPASAR—Perusahaan di Indonesia sudah saatnya mengelaborasi tanggung jawab sosial menjadi tanggung jawab budaya untuk memperkuat idealisme dan karakter..

Pakar semiotika dari Institut Teknik Bandung (ITB) Acep Iwan Saidi mengatakan ‘corporate social responsibility’ (CSR) yang cenderung ke persoalan fisik perlu dikembangkan lebih mendalam menjadi ‘corporate cultural responsibility’ (CCR). 

“Hasil dari CCR memang tidak tampak secara fisik, tetapi bisa menjadi kebanggaan karena memperkuat perusahaan secara ideologis dan filosofis,” katanya dalam acara CSR The Power of Life: Revolusi Industri 4.0, Selasa (30/7/2019).

Menurut Acep,  CSR mengedepankan sosial, eksternal, kontekstual, serta cenderung fisik, logika, dan temporal, sedangkan CCR lebih ke budaya, internal, universal, serta cenderung ke mental, aspek rasa dan waktu lama.

Dalam ranah kebudayaan, katanya, tanggungjawab perusahaan sejatinya akan lebih terfokus kepada “lapis dalam” fenomena sosial. Dalam konteks ini, tanggung jawab perusahaan tidak mewujud dalam bentuk program-program fisikal apalagi temporal, tetapi bersifat nonfisik yang berlangsung dalam jangka panjang. 

Ia menyebut dalam konteks kebudayaan dikenal penyelenggaraan peristiwa kebudayaan yang fisikal dan temporal seperti pentas seni, festival budaya, dll. Sejauh ini hal tersebut telah tercantum dalam program CSR. Tetapi, kerja kebudayaan yang ia maksud adalah upaya menjadikan wujud perusahaan sebagai bangunan nilai seperti ideologi, kultural, spiritual, dll.

CCR sudah pasti tidak mengabaikan sisi bisnis itu sendiri dan justru menjadi bagian penting dalam pengembangan usaha. Bahkan jika perusahaan bisa mengangkat produk atau jasa yang ditawarkan hingga menghegemoni masyarakat bukan tak mungkin mengambil posisi kepemimpinan budaya (cultural leadership).

Membangun tanggung jawab budaya, katanya, bisa memberi nilai baru pada kultur perusahaan, melestarikan kekayaan budaya, kearifan lokal dll, tetapi bukan berarti kembali ke masa lalu, melainkan mengembangkannya dalam konteks kekinian.

Dosen Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB ini menambahkan kerja kebudayaan tidak bisa instan, perlu proses dan waktu yang lama. Ia mencontohkan Pancasila, seandainya ‘dititipkan’ menjadi keseharian ideologi di perusahaan-perusahaan akan lebih gampang memasyaratkan dibanding melalui lembaga formal.

Ia menyebut idealnya ideologi, karakter, atau nasionalisme dibangun bersama, seperti halnya tanggung jawab budaya harus dipikul semua pihak dan dalam konteks ini bisa didorong melalui perusahaan yang ada di negeri ini.

CEO Meprindo Communication Aendra Medita mengatakan gagasan tentang CCR bakal memperkaya peran perusahaan untuk ikut memajukan dan menyejahterakan publik. 

Selain menggelar anugerah CSR yang telah 3 tahun dilakukan bersama media CSR Indonesia, ia mempertimbangkan untuk menambahkan CCR award agar lebih merangsang perusahaan menyempuranakan tanggung jawab baik sosial maupun budaya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
csr, budaya

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top