Kekeringan di NTB Meluas, Wilayah Terdampak Jadi 301 Desa

Kemarau menyebabkan jumlah desa di NTB yang mengalami kekeringan semakin meluas, jika sebelumnya mencapai 298 desa kini bertambah menjadi 301 desa.
Newswire
Newswire - Bisnis.com 04 Juli 2019  |  19:15 WIB
Kekeringan di NTB Meluas, Wilayah Terdampak Jadi 301 Desa
Ilustrasi-Petani membajak sawahnya yang mengalami kekeringan - ANTARA/Yulius Satria Wijaya

Bisnis.com, MATARAM - Musim kemarau membuat wilayah terdampak di Nusa Tenggara Barat semakin meluas.

Kemarau menyebabkan jumlah desa di NTB yang mengalami kekeringan semakin meluas, jika sebelumnya mencapai 298 desa kini bertambah menjadi 301 desa.

Demikian disampaikan Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah NTB, Ahsanul Khalik di Mataram, Kamis (4/7/2019).

"Jumlah desa yang terdampak akibat kekeringan sampai saat ini sebanyak 301 desa di 68 kecamatan dan sembilan kabupaten kota di NTB," ujar Ahsanul.

Berdasarkan data yang dihimpun BPBD NTB hingga 4 Juli 2019 di sembilan kabupaten/kota yang terdampak parah kekeringan terbanyak di Kabupaten Lombok Tengah meliputi 83 desa di sembilan kecamatan dengan jumlah kepala keluarga (KK) yang terdampak mencapai 69,380 KK atau 273,967 jiwa.

Di posisi selanjutnya, Kabupaten Sumbawa dengan 42 desa di 17 kecamatan dengan jumlah yang terdampak sebanyak 20,189 KK atau 80,765 jiwa. Selanjutnya, Kabupaten Lombok Timur dengan 37 desa di tujuh kecamatan dengan jumlah terdampak 42,546 KK atau 128,848 jiwa.

Kemudian, di Kabupaten Bima dengan 35 desa di sembilan kecamatan dengan jumlah sebanyak 1.732 KK atau 5,660 jiwa. Kabupaten Dompu dengan 33 desa di delapan kecamatan dengan jumlah terdampak 15,094 KK atau 48,717 jiwa.

Dampak kekeringan juga terjadi di Kabupaten Lombok Barat dengan 25 desa di enam kecamatan dengan jumlah terdampak 16,246 KK atau 64,985 jiwa. Kota Bima di 13 kelurahan meliputi empat kecamatan dengan jumlah terdampak mencapai 6,014 KK atau 17,597 jiwa dan Kabupaten Sumbawa Barat terjadi 13 kelurahan di tiga kecamatan dengan jumlah terdampak mencapai 2,660 KK atau 10,084 jiwa.

"Secara keseluruhan jumlah warga yang terdampak mencapai 183,250 KK atau 658,759 jiwa," terang Ahsanul Khalik.

Ahsanul mengatakan untuk mengatasi dampak kekeringan tersebut pihaknya langsung berkoordinasi dengan pemerintah kabupaten/kota. Bahkan, pihaknya juga langsung berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi (Pemprov) NTB untuk menanggulangi bencana kekeringan tersebut.

"Kalau kabupaten/kota kesulitan dalam pendistribusian air, kami siap mendistribusikan, karena kami sudah menyiapkan mobil tangki untuk pendistribusian air," kata mantan Kepala Dinas Sosial NTB itu.

"Kami juga bekerja sama dengan sejumlah NGO dan PMI untuk membantu pendistribusian air, kita pinjam untuk operasional. Anggarannya sedapat mungkin kita pakai dana tak terduga," sambung Ahsanul.

Terkait warga yang terdampak kekeringan, kata Ahsanul Khalik, masih bisa ditangani oleh pemerintah kabupaten/kota, sebab di sana ada dana khusus untuk penanganan kekeringan.

"Kami akan bergerak setelah ada penetapan status tanggap darurat, namun sampai saat ini belum ada kabupaten/kota yang membuat surat keputusan (SK) tanggap darurat," ucap Ahsanul.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) telah merilis informasi bahwa dari Juli hingga Agustus, Hari Tanpa Hujan (HTH) di NTB akan cukup panjang di beberpa wilayah. Untuk Pulau Sumbawa hampir merata HTH antara 30 - 60 hari, bahkan ada wilayah yang antara 30 - 70 Hari. Sementara di Pulau Lombok antara 20 - 30 Hari, kecuali Lombok Bagian selatan bisa HTH nya antara 30 - 60 Hari.

"Kita berharap masyarakat dengan segenap perangkat Desa dan Dusun memperhatikan dengan baik masalah kekeringan ini beberapa bulan ke depan.
Karena masalah kekeringan juga bisa menimbulkan berbagai masalah sosial kemasyarakatan," kata Ahsanul.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kemarau, kekeringan

Sumber : Antara
Editor : Saeno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Top