Bank Wakaf Mikro & Mimpi Ibu RT di Desa Bonder NTB

Kegembiraan terpancar dari wajah Lara Anjani ketika mendapat kejelasan tentang pencairan modal pinjaman untuk usaha krupuk yang telah ia tekuni tiga tahun belakangan ini.
Ema Sukarelawanto
Ema Sukarelawanto - Bisnis.com 02 Juli 2019  |  19:37 WIB
Bank Wakaf Mikro & Mimpi Ibu RT di Desa Bonder NTB
Direktur Humas Otoritas Jasa Keuangan Hari Tangguh Wibowo (kiri), Ketua Yayasan Ponpes Pesantren Al/Manshuriyah Talimusshibyan Baiq Mulianah (kedua kiri), Ketua OJK NTB Farid Faletehan (kedua kanan) dan Direktur Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro OJK Suparlan (kanan) berbincang/bncang seusai penyerahan izin Lembaga Keuangan Mikro Syariah / Bank Wakaf Mikro Ahmad Taqiuddin Mansur Atqia di Pondok Pesantren Al/Manshuriyah Talimusshibyan, Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Timur, NTB, Senin (

Bisnis.com, PRAYA--Kegembiraan terpancar dari wajah Lara Anjani ketika mendapat kejelasan tentang pencairan modal pinjaman untuk usaha krupuk yang telah ia tekuni tiga tahun belakangan ini.

Nilainya hanya Rp1 juta, tetapi –katanya– pembiayaan ini akan dapat meningkatkan usaha untuk menambah penghasilan keluarga.

 

Lara Anjani menuturkan setiap hari membeli krupuk mentah Rp50 ribu, kemudian digoreng dan diwadahi dalam beberapa plastik kecil. Ia menitip krupuk yang dijual Rp1.000 buah per bungkus itu pada 12 warung di desanya. Jika semua krupuknya terjual, ia bisa mengantongi keuntungan Rp 60 ribu per hari. 

 

Dengan bantuan pembiayaan Rp1 juta Lara Anjani berencana membuat krupuk dan kacang asin untuk dititipkan di beberapa warung lain di desa sekitarnya. Ia tertarik menjadi nasabah lembaga keuangan mikro syariah karena tidak praktik riba dan –seperti kata M. Turmuzi, suaminya yang bekerja sebagai pengawas kebersihan Bandara Internasional Lombok– sesuai dengan tuntunan agama.

 

Lara Anjani bersama seorang anak balitanya hadir di ruang pertemuan Pondok Pesantren Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan, Desa Bonder, Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Timur, NTB, Senin (1/7/2019) siang. Ia bersama 104 ibu rumah tangga menjadi saksi keluargnya izin usaha Lembaga Keuangan Mikro Syariah - Bank Wakaf Mikro Ahmad Taqiuddin Mansur Atqia yang berada di lingkungan pesantren Nahdlatul Ulama dengan 2.500 santri itu.

 

Salinan izin usaha dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang dipigura rapi itu diserahkan oleh Ketua OJK NTB Farid Faletehan kepada Ketua Yayasan Ponpes Pesantren Al-Manshuriyah Ta’limusshibyan Baiq Mulianah disaksikan Direktur Humas OJK Hari Tangguh Wibowo, puluhan jurnalis peserta media gathering OJK, serta warga pondok pesantren.

 

Baiq Mulianah yang juga Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Mataram mengatakan 105 orang itu merupakan nasabah pertama di BWM yang pertama kali beroperasi di Pulau Lombok, bahkan di wilayah kerja OJK Regional 8 yang meliputi Provinsi Bali, Nusa tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur. Pada pertemuan itu juga diumumkan keeseokan hari 105 nasabah itu sudah bisa mencairkan dana pinjaman di kantor BWM yang tak jauh dari pesantren.

 

Sebagai pengasuh yayasan pesantren, Mulianah telah berulang kali menjalankan usaha baik melalui koperasi, dana bergulir, dan semacamnya untuk mendorong warga di sekitar pesantren terangkat dari kemiskinan. Betapa tidak, sebagian besar warga adalah petani gogorancah yang bergantung dari panen setahun sekali karena kekeringan panjang yang mendera wilayah ini.

 

“Kami banyak berharap dari kegiatan BWM ini untuk memberdayakan warga agar berkehidupan yang lebih baik dan bisa menyekolahkan anaknya, sehingga tidak perlu menjadi tenaga kerja di luar negeri,” kata Baiq Mulianah yang belum lama ditinggal wafat suaminya yang juga sesepuh pesantren ini, Tuan Guru H. Ahmad Taqiuddin Mansur.

 

Untuk tahap awal, terdapat sekitar 3.000 perempuan yang telah memiliki usaha dan potensial untuk mendapatkan pembiayaan BWM yang ia pimpin. Saat ini dana wakaf dari donatur yang dihimpun dan disalurkan oleh Lembaga Amil Zakat Nasional (Laznas) telah masuk dalam rekening BWM Ahmad Taqiuddin Mansur Atqia sekitar Rp4 miliar yang siap dikucurkan setelah calon nasabah melewati uji kelayakan, sosialisasi, administrasi, seleksi, dan 5 hari pelatihan wajib kelompok.

 

Nasabah BWM hanya bisa mendapatkan pinjaman Rp1 juta hingga Rp3 juta, pengembalian pun Cuma Rp22 ribu per minggu selama setahun. Rinciannya Rp20 ribu untuk pengembalian pokok, Rp1.500 untuk infaq, dan Rp500 administrasi. Cicilan ini dilakukan langsung saat nasabah menghadiri pertemuan wajib atau halaqah mingguan (halmi) yang dihadiri pengurus BWM dan diisi pengajian serta berbagi pengalaman menjalankan usaha. 

 

“Setiap kelompok halmi terdiri 20 orang, jika salah satu anggota tak membayar cicilan, angota yang lain ikut menanggung. Kekompakan dan kebersamaan ini menjadikan kekeluargaan mereka kuat dan saling memotivasi,” katanya.

 

Direktur Pengawasan Lembaga Keuangan Mikro OJK Suparlan mengatakan sebagai bagian dari ekonomi syariah BWM diharapkan menjadi mesin pendorong pertumbuhan ekonomi dan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan akses keuangan, memiliki karakteristik yang dekat dengan pengembangan sektor riil dan memperhatikan aspek sosial

 

Sebanyak 28.194 pesantren berbasis pendidikan agama di seluruh Indonesia memiliki potensi besar untuk memberdayakan umat dan berperan mengikis kesenjangan ekonomi serta mengentaskan kemiskinan warga, khususnya di sekitar pesantren.

 

Pembentukan BWM dengan badan hukum koperasi ini didasari keinginan dan komitmen besar OJK bersama pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui perluasan penyediaan akses keuangan yang mudah (tanpa agunan) dan murah (imbal hasil setara 3%), khususnya bagi usaha kecil, mikro dan bahkan ultramikro. BWM ini pula yang kini menjadi harapan Lara Anjani dan ibu rumah tangga di Desa Bonder, Kabupaten Lombok Tengah itu untuk meraih mimpi, memenuhi seluruh kebutuhan keluarganya.

 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
ntb, Bank Wakaf Mikro

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Terpopuler

Top