Asita Menanti Regulasi Praktik Wisata Murah Bali

Asosiasi Biro Perjalanan Wisata di Bali menanti adanya regulasi dari Pemerintah Bali untuk menghentikan dan mengatur adanya praktik wisata murah.
Ni Putu Eka Wiratmini | 16 November 2018 13:19 WIB
Sejumlah wisatawan menikmati suasana pantai Double Six, Seminyak, Bali, Kamis (25/10/2018). Selama bulan Januari-Agustus 2018, tercatat kunjungan wisatawan mancanegara ke Indonesia mencapai 10,58 kunjungan dari target selama tahun 2018 sebanyak 17 juta wisman. - Antara/Fikri Yusuf

Bisnis.com, DENPASAR – Asosiasi Biro Perjalanan Wisata di Bali menanti adanya regulasi dari Pemerintah Bali untuk menghentikan dan mengatur adanya praktik wisata murah.

Ketua Asosiasi Biro Perjalanan Wisata (Asita) Bali I Ketut Ardana mengatakan saat ini pihaknya telah tidak lagi bekerja sama dengan toko dari China yang melakukan praktik ilegal. Ini merupakan salah satu langkah untuk menghentikan praktik wisata murah tersebut.

Kata dia, Asita telah menyurati seluruh anggota sejak bulan lalu untuk tidak lagi bekerja sama maupun mengantar wisatawan Tiongkok ke toko-toko milik pengusaha China yang beroperasi secara ilegal di Bali. Seruan ini ditujukan untuk mengurangi adanya “jual beli kepala” dalam praktik paket wisata murah dari China ke Pulau Dewata.

Adapun dalam praktiknya, wisatawan Tiongkok yang datang ke Bali ditawari paket wisata murah asal selama berwisata di Pulau Dewata mengunjungi toko-toko ilegal tersebut. Toko-toko tersebut selain tidak berizin, ternyata jual menjual barang-barang produksi China dan bukan dari Bali.

Dia juga mendorong pemerintah untuk menangkap oknum-oknum yang masih melakukan praktik ilegal tersebut. Hingga saat ini, toko-toko dari China yang melakukan praktik ilegal terus.

“Tujuannya kita adalah memperbaiki tata niaga di pasar Tiongkok, memang sejak ada ini teradu gejolak, tetapi kita ingin ke depannya pasar menjadi lebih baik,” katanya, Jumat (16/11/2018).

Dia mengklaim, jika praktik paket wisata murah ini bisa diatasi, maka pariwisata Bali akan normal, terutama dari segi harga.

Tag : bali, pariwisata bali
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top