Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Perhutanan Sosial di Bali Dongkrak Kunjungan Wisatawan

Sejumlah kelompok tani di Bali mengelola perhutanan sosial dengan komoditas unggulan kopi dan menjadikan destinasi untuk menarik kunjungan wisatawan.
Ema Sukarelawanto
Ema Sukarelawanto - Bisnis.com 13 November 2018  |  17:20 WIB
Wisatawan menikmati pemandangan pedesaan sawah berundak (terasering) di Desa Tegallalang, Gianyar, Bali, Senin (1/10/2018). - Antara/Fikri Yusuf
Wisatawan menikmati pemandangan pedesaan sawah berundak (terasering) di Desa Tegallalang, Gianyar, Bali, Senin (1/10/2018). - Antara/Fikri Yusuf

Bisnis.com, DENPASAR — Sejumlah kelompok tani di Bali mengelola perhutanan sosial dengan komoditas unggulan kopi dan menjadikan destinasi untuk menarik kunjungan wisatawan.

Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Bambang Supriyanto mengatakan saat ini terdapat sekitar 5.000 hektare hutan di Bali yang pengelolaannya telah diserahkan kepada masyarakat.

“Di Bali, justru pengelolaan yang memadukan usaha komoditas dengan wisata edukasi mendatangkan keuntungan yang sangat besar,” katanya, Selasa (13/11/2018).

Menurut Bambang pengelolaan di Bali ini patut menjadi contoh daerah lain dalam rangka percepatan pemerataan kesejahteraan bagi kelompok tani penggarap perhutanan sosial.

Ia menyebut kiprah Kelompok Tani Wanagiri, Kabupaten Buleleng yang sejak 2015 mengembangkan spot swafoto dan menjadikan kekayaan alam sebagai destinasi wisata telah memberikan pendapatan tambahan cukup besar, selain komoditas kopi yang kini cukup dikenal di Pulau Dewata.

Bambang mengatakan kelompok tani tersebut telah memanfaatkan dengan baik pembeiran akses lahan hutan dari pemerintah yang bertujuan untuk menyejahterakan masyarakat sekitar.

Hingga 2019 mendatang, ditargetkan 9.000 hektare areal perhutanan sosial di Bali bisa didistribusikan kepada masysrakat di sekitar lokasi.

Sebagai program nasional, perhutanan sosial memberi keleluasaan masyarakat mengelola hutan dengan berbagai komoditas pertanian di antara tanaman induk hutan.

Hingga kini sekitar 500 kepala keluarga dan komunitas di Bali mengelola perhutanan sosial. Selain mengembangkan sebagai destinasi wisata baru, mereka menanam komoditas seperti kopi dan ulat sutera.

Kata Bambang selain menanam komoditas dengan sistem tumpang sari, petani juga diperbolehkan mengembangkan perikanan dan peternakan, sesuai dengan kesepakatan dengan kesatuan pengelola hutan (KPH) setempat.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali kehutanan
Editor : Miftahul Ulum
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top