Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

IPRS Bali, 2018: Public Relations Harus Proaktif

Public relations di era sekarang ini harus proaktif memberikan masukan ke organisasi dan tidak lagi hanya sekedar reaktif ketika krisis informasi terjadi.
Feri Kristianto
Feri Kristianto - Bisnis.com 05 November 2018  |  17:35 WIB
Direktur Utama LKBN Antara Meidyatama Suryodiningrat menyampaikan presentasi mengenai perkembangan media digital di era disruption pada salah satu sesi IPRS 2018 di Bali, Senin (5 - 11)
Direktur Utama LKBN Antara Meidyatama Suryodiningrat menyampaikan presentasi mengenai perkembangan media digital di era disruption pada salah satu sesi IPRS 2018 di Bali, Senin (5 - 11)

Bisnis.com, MANGUPURA--Public relations di era sekarang ini harus proaktif memberikan masukan ke organisasi dan tidak lagi hanya sekedar reaktif ketika krisis informasi dan komunikasi telah terjadi.

Tren perubahan perilaku publik karena didorong digitalisasi membuat stakeholder memiliki beragam sikap, hal itu hanya bisa disikapi apabila public relations (PR) tidak sekedar reaktif.

Founder International Public Relations Summit (IPRS) Elizabeth Goenawan Ananto menekankan fungsi PR merupakan jembatan antara kepentingan organisasi dengan masyarakat.

"Harus proaktif jangan ketika krisis baru reaktif. PR harus berikan masukan informasi dari opini publik ke perusahaan.

Dia menjadi jembatan untuk buat satu harmoni supaya tidak terjadi gap antara yang diinginkan perusahaan, NGO, atau organisasi dengan masyarakat," jelasnya di IPRS 2018, Senin (5/11/2018).

Founder IPRS Dr Elizabeth Gunawan Ananto yang juga Direktur Program MM Komunikasi Universitas Trisakti 

Menurut Elizabeth yang akrab dipanggil Bu EGA, mau tidak mau PR harus berubah dan organisasi wajib terlibat memberdayakan kualitasnya. Elizabeth menegaskan PR era sekarang tidak cukup hanya menguasai ilmu kehumasan.

Jika ingin berkembang, harus meningkatkan kapasitasnya dengan membekali diri dengan multidisiplin ilmu salah satunya seperti geo politik.

Hal itu penting supaya dapat memberikan kontrobusi positif bagi organisasi tempatnya bekerja. Selain upgrade kapasitas ilmu, dia menekankan perlunya PR bekerja sama dengan IT sehingga informasi dapat disebarkan secara cepat sebagai satu tim, khususnya di era digital sekarang.

"Sebetulnya core competence itu di PR untuk bicara value organisasi. Namun, tentu saja harus kerjasama dengan yang kuasai IT sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri. Ada informasi yang demikian cepat itu harus diantisipasi secara tim," tuturnya

Diakuinya, dunia kehumasan sekarang berkembang tetapi belum dimaksimalkan. Elizabeth menuturkan IPRS 2018 dengan tema Shifting the Power of Strategic Communication in the Era of Digital Economy dapat memberikan perkembangan kehumasan di internasional.

Ajang ini diharapkan memberikan standar baru kehumasan di Indonesia sehingga memiliki ciri khas dan standar khusus. Selama ini, menurutnya PR belum diberikan peran dalam memberikan kontribusi nyata bagi perusahaan.

Pertemuan ini bertujuan mempertemukan pakar, guru besar komunikasi dengan eksekutif lembaga perwakilan dunia dan praktisi untuk memadukan konsep dan teori perkembangan dunia PR.

“Kami melihat bahwa teknologi digital mengubah perilaku, sehingga organisasi membutuhkan startegi komunikasi yang berbeda untuk mengkomunikasikan perubahan tersebut. Nah dengan adanya IPRS diharapkan paling tidak memberikan informasi bagaimana caranya ini lebih didayagunakan di organisasi," tuturnya.

President Arthur W. Page Society Roger Bolton menekankan di era disrupsi seperti sekarang, mutlak bagi seorang PR memiliki pemahaman tidak hanya terkait organisasinya bernaung tetapi tentang dunia luar juga. Salah satu hal yang bisa dipelajari seperti masalah geo politik yang sekarang ini menjadi diskusi hangat di dunia global

Dirut LKBN Antara Meidyatama Suryodiningrat menambahkan tugas seorang PR adalah bagaimana mengkomunikasikan dan mengubah persepsi dan klien menjadi lebih baik. Sekarang ini godaan bagi  PR adalah bagaimana pesatnya perkembangan media sosial dan bisa menggunakannya dengan baik.

Dia menegaskan PR harus bisa mengkomunikasikan promosi menjadi informasi yang bermanfaat bagi media maupun masyarakat. Tidak hanya cukup dengan mengeluarkan sebuah promosi yang terkadang bagi media belum tentu merupakan informasi.

“Persoalan PR ini adalah perusahaan yang mendorong komunikasi atau produk. PR itu kan ada sedikit penggabungan, beda dengan informasi biasa. Selalu ada beda antara informasi dan promosi,” tekannya.

Para pembicara IPRS 2018 - Bali: Dr Don Stacks, Dr Timothy Coombs, Jean Valin, Roger Bolton, Dr Don Wright 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali public relations
Editor : Rustam Agus
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top