PENGOLAHAN KAKAO, Fermentasi Tingkatkan Nilai Tambah

Produksi Kakao di Bali mengalami penurunan hingga 50% selama 2017 dari 6.000 ton pada tahun sebelumnya lantaran tingginya curah hujan hingga serangan hama.
Ni Putu Eka Wiratmini | 20 Februari 2018 10:52 WIB

Bisnis.com, DENPASAR—Produksi Kakao di Bali mengalami penurunan hingga 50% selama 2017 dari 6.000 ton pada tahun sebelumnya lantaran tingginya curah hujan hingga serangan hama.

Walaupun produksi menurun, namun kabar yang cukup menggemberikan datang dari tingginya jumlah ekspor biji kakao fermentasi. Adapun pada 2017 biji kakao fermentasi dari Bali yang dieskpor ke luar negeri meningkat hingga 80% dari tahun sebelumnya yang hanya sebanyak 100 ton.

Kepala Bidang Perkebunan Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Bali Lanang Aryawan mengatakan biji kakao fermentasi Bali memang cukup diminati lantaran memiliki cita rasa spesifik dan kandungan lemak yang cukup bagus. Walau diminati tetapi biji fermentasi kakao Bali sebelumnya tidak banyak dikirim karena produksi yang minim. Namun, saat ini dengan masifnya penerapan teknologi, jumlah biji kakao fermentasi yang dapat dikirim meningkat hingga 500 ton selama 2017.

"Petani kakao biasanya juga sambil menanam kelapa karena dua tanaman ini bersinergi, kelapa menjadi penaung kakao," katanya kepada Bisnis, Senin (19/2/2018).

Dia pun meyakini penurunan produksi kakao di Bali tidak disebabkan oleh alih lahan. Walaupun itu ada sekalipun, lahan sebagian besar dialihkan menjadi pemukiman warga. Namun, tetap dengan jumlah yang sangat kecil dan tidak berpengaruh signifikan dengan produksi kakao di Bali.

Bahkan menurutnya, potensi perkebunan kakao di Bali memang sangat tinggi. Saat ini ada sekitar 14.000 hektar lahan kakao, dengan potensi yang dapat dikembangkan untuk lahan kakao mencapai 20.000 hektar. Namun, 6.000 hektar sisanya masih belum dimanfaatkan maksimal oleh petani.

"Sisanya belum digarap atau dikembangkan," sebutnya.

Lanang mengatakan, Indonesia sendiri menjadi eksportir kakao ketiga setelah Pantai Gading dan Gana. Adapun jumlah yang diekspor hanya 900.000 ton dari total kebutuhan dunia mencapai 4 juta ton. Sementara, Bali hanya ikut ambil bagian sebesar 500 ton.

Dia menyayangkan, 95% produksi kakao yang diekspor Bali merupakan biji non fermentasi. Padahal jika dilihat dari segi harga, nilai jual biji fermentasi lebih mahal. Dalam 1 kg biji fermentasi petani bisa mendapat hingga Rp50.000. Sementara untuk biji non fermentasi nilainya hanya Rp25.000 per kg.

"Kalau terkait kakao fermentasi kondisinya meningkat bagus," katanya.

Tag : mirae
Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top