Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tracing dan Testing Kasus Covid-19 di Bali di Bawah Standar

Padahal, dengan mengggunakan rapid antigen, hampir 20 persen dari yang diuji pasti akan terhitung negatif. Berbeda dengan PCR yang memiliki tingkat sensitivitas yang mencapai 99 persen.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 21 Desember 2021  |  14:23 WIB
Tracing dan Testing Kasus Covid-19 di Bali di Bawah Standar
Antigen kit
Bagikan

Bisnis.com, DENPASAR -- Jumlah tracing dan testing pandemi Covid-19 di Bali masih tidak memadai atau tergolong substandar.

Adapun per 20 Desember 2021, jumlah kasus positif harian di Bali ada sebanyak 5 kasus, dan 15 sembuh, dan tidak ada yang meninggal.

Virolog I Gusti Ngurah Kade Mahardika mencontohkan India yang dalam satu hari mampu menguji 1,5 juta sampai 2 juta sampel per hari dengan menggunakan metode uji PCR. Begitu juga dengan China, ketika ada warga dalam satu kota tertular, maka seluruh warga akan diuji SWAB. Bahkan, China hanya membutuhkan waktu satu minggu untuk melakukan PCR.

Berbeda dengan Bali, hanya ada sekitar 4.000 sampai 5.000 sampel per hari yang dideteksi. Bahkan ketika ada letupan kasus di Januari, Bali seharusnya mampu melakukan uji ke 15.000 sampel per hari.

"Satu-satunya masalah di Bali adalah tracing rendah, biar jadi level 1 perlu peningkatan tracing," katanya, Selasa (21/12/2021).

Belum lagi standar pemeriksaan yang sebanyak 40 persen dilakuan dengan menggunakan uji rapid antigen. Padahal, dengan mengggunakan rapid antigen, hampir 20 persen dari yang diuji pasti akan terhitung negatif. Berbeda dengan PCR yang memiliki tingkat sensitivitas yang mencapai 99 persen.

Meskipun demikian, adanya pandemi mash memungkinkan berakhir. Berkaca dari penyebaran wabah 100 tahun lalu, pandemi berakhir ditunjukkan oleh lowongnya jumlah pasien di rumah sakit dan jumlah orang meninggal dunia tidak setinggi saat pandemi.

"100 tahun lalu pandemi berakhir karena dua hal, pandemi pun bisa berakhir jika sebagian besar sudah terpapr dan tidak meninggal serta virus berubah menjadi tidak ganas, tetapi saat ini kita punya tiga yakni dengan tambahan adanya vaksin," sebutnya.

Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah Provinsi Bali I Made Rentin mengatakan rendahnya tracing berkaitan dengan jumlah kasus yang memag mengalami penurunan. Saat ini jumlah penambahan kasus harian di Bali konsisten bertambah 1 digit.

"Kami di lapangan di satu sisi karena memang kasus sudah menurun signfikan," sebutnya.

#ingatpesanibu #sudahdivaksintetap3m #vaksinmelindungikitasemua #ingatpesanibu

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali Virus Corona Adaptasi Kebiasaan Baru
Editor : Andhika Anggoro Wening
Bagikan
Konten Premium

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top