Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Ekspor Perikanan dari Bali Masih Terkendala Pengiriman

Berdasarkan data Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Denpasar mencatat nilai ekspor produk perikanan di Bali selama kuartal III/2021 mengalami penurunan nilai hingga sebesar 4,39 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp478,61 miliar.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 03 November 2021  |  15:27 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, DENPASAR -- Ekspor produk perikanan di Bali masih terkendala terbatasnya penerbangan internasional sehingga selama kuartal III/2021 terjadi penurunan nilai pengiriman.

Berdasarkan data Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Denpasar mencatat nilai ekspor produk perikanan di Bali selama kuartal III/2021 mengalami penurunan nilai hingga sebesar 4,39 persen secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp478,61 miliar.

Secara rinci, nilai ekspor ikan hidup pada kuartal IIII/2021 mengalami kenaikan sebesar 4,89 persen mencapai Rp36,26 miliar. Sementara itu, nilai ekspor ikan non hidup pada kuartal IIII/2021 adalah senilai Rp442,35 miliar atau turun sebesar 5,08 persen YoY.

Setidaknya, ekspor perikana di Bali ditujukan ke 66 negara tujuan ekspor yang didominasi Amerika Serikat dengan pangsa pasar 43,3 persen, Australia 10,79 persen, Taiwan 10,78 persen, Jepang 9,32 persen, dan China 9,27 persen.

Kepala Balai Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Denpasar Anwar mengatakan potensi produksi perikanan di Bali tetap tinggi di Bali. Begitu juga dengan permintaan dari importir selama pandemi Covid-19. Namun, hal ini tidak diiikuti dengan ketersediaan akses distribusi produk karena masih terbatasnya penerbangan internasional.

"Untuk produksi perikanan di Bali masih cukup, hanya masalah transportasi udara ke luar negeri yang secara langsung tidak ada, eksportir harus mengekspor produk melalui Cengkareng maupun Surabaya, ini menyebabkan ekspor tidak optimal," katanya kepada Bisnis, Rabu (3/11/2021).

Menurutnya, eksportir sama sekali tidak memasalahkan mengenai tingginya biaya distribusi. Selama biaya distribusi sesuai dengan perhitungan eksportir, produk tetap akan dikirim. Tujuannya, adalah untuk menjaga hubungan dengan buyer di luar negeri.

Hanya saat ini, eksportir harus saling berebut cargo untuk dapat mengirim produknya ke luar negeri.

"Kalau pun biaya trasnportasi mahal, jika relatif masih masuk dan mencukupi pasti dikrim, tapi sekarang kan saling berebut karena cargo terbatas," sebutnya.

Menurutnya, pembukaan border internasional di Bali memberikan peluang yang besar pada kegiatan ekspor impor di Bali. Selain itu, dengan dibukanya border internasional, biaya ekspor juga dari Bali langsung akan jauh lebih murah.

"Kita belum bisa memprediksi berapa persen, ada beberapa negara yang sudah dibuka, belum bisa menghitung ke sana tetapi yang jelad akan terjadi peningkatan karena cost lebih murah tidak harus ke Jakarta," sebutnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor bali
Editor : Ajijah

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Banner E-paper
To top