Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

3.000 Bibit Bambu Bernilai Ekonomis akan Ditanam di DAS Ayung Bali

Saat ini telah diidentifikasi sekitar 1.500 penggunaan komersial untuk bambu. Nilai pasar bambu global ditaksir telah mencapai US$60 miliar.
Luh Putu Sugiari
Luh Putu Sugiari - Bisnis.com 19 Maret 2021  |  15:33 WIB
3.000 Bibit Bambu Bernilai Ekonomis akan Ditanam di DAS Ayung Bali
Manajer Program Yayasan Bambu Lestari Wiwien Windrati (kanan), dan Kepala UPTD KPH Bali Timur I Made Warta (kiri) dalam acara Jumpa Pers di Denpasar Bali, Jumat, (19/3 - 2021).
Bagikan

Bisnis.com, DENPASAR - Yayasan Bambu Lestari dan UPTD Kesatuan Pengelolaan Hutan Bali Timur akan menanam 3.000 bibit bambu di hulu Daerah Aliran Sungai Ayung sebagai upaya untuk menjaga kawasan konservasi dan meningkatkan perekonomian masyarakat.

Manajer Program Yayasan Bambu Lestari (YBL) Wiwien Windrati mengatakan bambu merupakan tanaman yang sangat tepat untuk digunakan dalam upaya perlindungan air serta restorasi lahan kritis. Selain itu, bambu juga memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan tingkat pertumbuhan yang cepat sehingga bisa dipanen secara berkelanjutan.

"Saat ini telah diidentifikasi sekitar 1.500 penggunaan komersial untuk bambu. Nilai pasar bambu global ditaksir telah mencapai US$60 miliar," tuturnya, Jumat (19/3/2021).

Adapun jenis bambu yang akan ditanam seperti bambu petung dan bambu tali. Selanjutnya, bambu sudah dapat dipanen 4 tahun setelah penanaman. Satu batang bambu petung dapat dipasarkan dengan harga mulai dari Rp40.000 - Rp75.000. Nilai jual ini dapat meningkat 200 persen jika bambu mendapatkan perlakuan pasca panen yang baik, misalnya telah melalui proses pengawetan.

Menurut Wiwin, bambu dapat menjadi kunci untuk menuju Ekonomi Restorasi, yakni sebuah cara untuk mensejahterakan masyarakat pedesaan sekaligus melindungi lingkungan. Konsep Ekonomi Restorasi ini yang sedang dikembangkan YBL di Nusa Tenggara Timur melalui program Desa Bambu.

"YBL sudah selama 28 tahun telah mengkampanyekan bambu sebagai solusi lingkungan dan ekonomi dalam memberdayakan masyarakat pedesaan," jelasnya.

Dalam program berbasis desa ini, sambungnya, masyarakat petani diberdayakan untuk membibit, menanam, dan merawat bambu di lahan kritis. Bambu yang dipanen kemudian diolah menjadi strip dan pelet di pabrik yang dikelola desa itu sendiri. Strip akan menjadi bahan baku berbagai industri, termasuk industri konstruksi dan furniture, sedangkan pelet untuk sumber bahan bakar terbarukan.

Kepala UPTD KPH Bali Timur I Made Warta menuturkan kegiatan penghijauan ini bertujuan untuk melindungi kawasan hulu DAS Ayung, yang merupakan salah satu daerah tangkapan dan resapan air terbesar di Pulau Dewata. Dengan luas wilayah hampir 30.000 hektar dan panjang mencapai 68,5 kilometer, sehingga sangat vital perannya dalam konservasi air serta distribusi air, baik untuk irigasi maupun sumber air
bersih.

"Kintamani merupakan salah satu kawasan hulu DAS Ayung karena itu kegiatan penghijauan ini kita pusatkan di Kintamani, tepatnya di daerah yang dikelola KTH Puncak Peninjauan Lestari," kata dia.

Lebih lanjut, penanaman bambu ini juga bertepatan dengan Hari Raya Tumpek Wariga yang jatuh pada Sabtu, (20/3), yang selama ini dimaknai sebagai upaya penghormatan manusia terhadap lingkungan, terutama kepada pohon dan tumbuhan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bali penghijauan bambu
Editor : Miftahul Ulum
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

Terpopuler

Banner E-paper
back to top To top