Tampaksiring Jadi Desa Wisata Pertama Binaan Bank Indonesia Bali

Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Gianyar menjadi desa pertama di Bali yang dibina oleh Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Bali untuk menjadi desa wisata.
Sultan Anshori
Sultan Anshori - Bisnis.com 12 Oktober 2019  |  16:05 WIB

Bisnis.com, DENPASAR — Desa Tampak Siring, Kecamatan Tampak Siring, Kabupaten Gianyar menjadi desa pertama di Bali yang dibina oleh Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Bali untuk menjadi desa wisata.

Deputi Direktur Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan (KPw) Bali Sapto Widyatmiko mengatakan, dipilihnya desa Tampaksiring sebagai desa binaan wisata tidak lain untuk memberikan dampak positif bagi masyarakat setempat khususnya bidang ekonomi.

Menurutnya, jika digarap secara profesional bukan tidak mungkin akan meningkatkan kunjungan wisatawan karena Desa Tampaksiring ini memiliki potensi yang luar biasa khususnya bidang wisata budaya. Dia menyebut, salah satunya wisata Tirta Empul yang mana tempat ini pernah menarik perhatian Barack Obama bersama keluarganya saat mengunjungi Bali pada 27 Juni 2017 lalu.

"Jadi sudah tentu ini menarik untuk dikunjungi oleh wisatawan khususnya wisatawan mancanegara," ujarnya saat ditemui di Denpasar Sabtu, (12/10/2019).

Sapto sapaan akrabnya ini menyebut, keunggulan lain dari desa Tampaksiring ini yang berdekatan dengan istana presiden Tampaksiring. Sehingga wisatawan bisa mengunjungi istana bersejarah untuk mengetahui sejarah bangsa Indonesia. 

Dia mengatakan, nantinya jika desa wisata Tampaksiring ini sudah berjalan, pihaknya  berencana akan melakukan kerjasama dengan pihak pengelola istana presiden Tampaksiring untuk membuat paket wisata makan malam di istana presiden Tampaksiring. Tentunya hal ini menjadi salah satu trip wisata unggulan saat wisatawan berkunjung ke desa yang memiliki jarak sekitar 50 kilometer dari kota Denpasar.

"Kapan lagi wisman itu bisa menikmati makan malam di sebuah istana presiden," jelasnya.

Sapto menambahkan, selain wisata alam dan budaya desa ini juga memiliki potensi agrowisata dimana beras Pulagan menjadi salah satu produk unggulannya. Beras Pulagan sendiri sudah terkenal hingga penjuru Nusantara sebagai beras yang memiliki kualitas bagus karena rasanya yang pulen.

"Saat ini kami masih proses pembentukan Badan Usaha Desa (Bumdes) agar mengelola desa wisata tersebut secara profesional. Dan dalam waktu dekat kami akan mengajak mereka untuk studi banding ke Jogjakarta untuk mempelajari bagaimana mengelola desa wisata yang baik dan benar," imbuhnya.

Desa wisata seolah menjadi tren kekinian setiap desa untuk terus mengenalkan potensi desa kepada masyarakat. Namun, desa wisata yang baik harus tetap memperhatikan kebutuhan dasar dari wisatawan.

Ketua Tim Pengembangan Ekonomi BI Bali Leo Edi Wijaya menyatakan, untuk menjadi desa wisata yang baik setiap desa harus memiliki beberapa syarat seperti aksesibilitas, amenities, atraksi dan people atau biasa disebut 3A 1P.

Dia menyebut, aksesibilitas ini penting karena hal ini berkaitan erat dengan informasi yang diberikan kepada wisatawan. Baik informasi infrastruktur jalan menuju lokasi desa wisata, Infrastruktur pendukung lainnya seperti ketersediaan listrik, air Wi-Fi.

Kedua adalah amenities, normalnya destinasi desa wisata memang harus tersedia penginapan yang memadai. Artinya harus memiliki standar sebagaimana layaknya penginapan yang memberikan rasa aman dan nyaman bagi para penghuninya. Termasuk kebersihan baik kamar maupun toilet.

Ketiga adalah atraksi, hal ini berkaitan dengan atraksi budaya lokal yang bisa ditampilkan kepada wisatawan saat berkunjung ke desa wisata tersebut. Misalnya tarian lokal dan pertunjukan lain yang bisa menarik minat pengunjung. Karena pada dasarnya wisatawan datang bukan hanya untuk menginap, melainkan untuk melihat budaya lokal yang hal ini tidak bisa dilihat di tempat asalnya.

"Misalnya di desa wisata tampak Siring ini nantinya memiliki objek wisata unggulan berupa destinasi wisata Tirta Empul yang merupakan destinasi alam. Jadi sebenarnya sudah ada tinggal bagaimana mengelolanya. Maka dari itu kami dorong kelompok masyarakat setempat ini untuk maju," ujarnya.

Dia menyebut, faktor terakhir adalah people. Hal ini berkaitan dengan sumber daya manusia yang tentunya harus dirubah. Misalnya masyarakat desa wisata didorong untuk bisa cakap berbahasa Inggris. Selain itu attitude masyarakat juga sangat diperlukan untuk memajukan desa wisata.

"Akan tetapi hal yang paling penting adalah adanya dukungan dari pemerintah setempat. Hal penting dilakukan untuk memberikan dukungan baik promosi maupun pembinaan serta bantuan modal. Karena jika Program ini berjalan akan secara otomatis mendatangkan pendapatan daerah," tegasnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bank indonesia, bali

Editor : Akhirul Anwar

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Terpopuler

Top