Bali Ekspor Perdana Salak Gula Pasir ke Kamboja

Setelahnya, salak gula pasir akan secara rutin diekspor sebanyak 50-100 ton per bulan.
Ni Putu Eka Wiratmini
Ni Putu Eka Wiratmini - Bisnis.com 21 Maret 2019  |  14:00 WIB
Bali Ekspor Perdana Salak Gula Pasir ke Kamboja
Gubernur Bali I Wayan Koster (kanan) memecahkan kendi tanda pelepasan ekspor manggis dan salak ke sejumlah negara di Pelabuhan Benoa, Kamis (21/3/2019). - Bisnis/Ni Putu Eka Wiratmini

Bisnis.com, DENPASAR – Bali mengekspor perdana setengah ton salak gula pasir ke Kamboja.

Kepala Karantina Pertanian Denpasar I Putu Terunanegara memaparkan salak gula pasir menjadi komoditas ekspor selanjutnya yang digemari pasar luar negeri. Ekspor perdana memang baru dilakukan dengan mengirimkan 0,5 ton salak gula pasir ke Kamboja pada Maret 2019. Setelahnya, salak gula pasir akan secara rutin diekspor sebanyak 50-100 ton per bulan.

Selain Kamboja, negara tujuan lain yang rencananya disasar untuk ekspor salak gula pasir yakni Vietnam dan China. Sebelumnya, Bali juga berhasil mengekspor manggis ke China setelah lima tahun tidak melakukan pengriman karena adanya pelarangan dari negara tersebut.

Pada 2018, Bali ahirnya berhasil mengirim 4.096 ton manggis dengan nilai ekonomi Rp300 miliar hanya ke China dan sekaligus menjadi nilai ekspor manggis tertinggi di Indonesia. Sementara, memasuki triwulan pertama 2019 ekspor manggis bahkan sudah mencapai 631 ton tujuan Cina dengan nilai devisa hingga Rp45 miliar.

“Kini bertambah lagi komoditas andalan petani di bali, dan petani sebagai penggeraknya telah menjadi pahlawan devisi negara,” katanya, Kamis (21/3/2019).

Kepala Balai Besar Karantina Soekarno Hatta Imam Djajadi mengharapkan dengan bertambahnya komoditas ekspor ini akan meningkatkan surplus neraca dagang Indonesia pada 2019. Adapun selama 2013 hingga 2017 ekspor komoditas pertanian secara nasional telah mengalami surplus senilai US$11,5 miliar.

“Sinergi yang dibangun telah membuahkan hasil, dan kita akan terus tingkatkan dengan mendorong produk komoditas pertanian unggulan asal Bali masuk ke pasar ekspor,” katanya.

Gubernur Provinsi Bali I Wayan Koster mengatakan produk pertanian Pulau Dewata memang memiliki keunggulan dibanding daerah lain seperti misalnya manggis, jeruk, maupun salak. Namun, hingga saat ini petani maupun distributor belum mendapatkan pembinaan secara serius mengenai produk tersebut.

Walaupun petani telah dibina, namun banyak juga produk yang tidak mampu didistribusikan dengan baik ke pasar. Hal tersebut menjadikan petani merugi karena produk yang dijual kerap dengan harga murah.

“Di bagian hulu [petani] sudah ada usaha tetapi di hilir betul-betul gak ada fokus dan komitmen untuk menyelesaikan masalah pertanian,” katanya.

Koster mengakui selama ini produk Bali masih kalah unggul dibanding komoditas ekspor Thailand. Sejumlah cara akan diterapkan mulai dari mengadakan pasar tematik yang menjual produk pertanian lokal hingga membangun industri olahan.

“Bali mewah untuk wisatawan tetapi tidak untuk pertanian artinya tidak terintegrasi,” katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bali, pertanian, salak

Editor : Miftahul Ulum

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya


Terpopuler

Top